“Banyak juga beberapa yang sering mengundang saya untuk menghadiri seminar dan workshop itu tapi karena khawatir usaha ga keurus terpaksa saya tolak, memang kadang mereka kecewa, tapi apa mau dikata daripada bisnis yang sudah saya dirikan jatuh lebih baik saya menolak, adapun jika mereka ingin belajar saya beri sarana belajar virtual atau mereka yang datang ke tempat saya,” ucapnya.

Adapun beberapa kelompok dari berbagai kota yang datang untuk belajar dengannya salah satunya dari Madura. Baginya, hal ini merupakan aneh, sebab Madura merupakan ladang garam tapi mengapa belajar ke Cirebon.

Namun, tidak dapat dipungkiri hal tersebut terjadi, karena inovasi yang Septi ciptakan memang benar-benar baru di Indonesia. Untuk pemasaran, Septi jarang mengambil pusing karena ia sudah menyerahkan hal tersebut kepada agen da reseller yang tersebar di seluruh Indonesia.

“kita ga fokus untuk jualan, hanya fokus pada produksi saja, karena sudah ada agen dan reseller yang melakukan hal tersebut. Kurang lebih ada 20 orang agen dan 50 reseller yang terdaftar oleh saya, terlepas dari reseller yang dimiliki agen itu saya kurang tau.,” ungkap Septi.

Menurut di, yang terpenting adalah bagaimana produksi tetap berjalan dan produknya bermanfaat. Untuk produksinya sendiri biasanya 2-3 ton pehari. Tetapi karena sekarang pandemi, menurun jadi 200-500 kg perhari.

“Meski begitu, kita masih tetap dapat untung walau memang penurunan akibat pandemi mencapai 60% tetapi kita masih tertolong oleh harga produk kita,” kata Septi

Untuk, pemesanannya sendiri dalam sehari per orang atau per agen bisa mencapai 1000 pesanan untuk 1 jenis produk. Dan untuk produk yang seringkali dipesan (Best Seller) salah satunya adalah bomb bath salt, yaitu bola garam untuk mandi yang didalamnya terdapat sedikit baking soda, pewarna alami, minyak zaitun, dan gara, laut.