Miris dengan Kondisi Petani Garam, Septi Ciptakan Inovasi Baru
Warning: Attempt to read property "post_excerpt" on null in /home/slawipos/tintabiru.com/wp-content/themes/liputanwp/template-parts/single/single-desktop.php on line 79
KAB. CIREBON, (FC),- Miris, begitulah yang Septi Ariyani pemilik Galeri Garam Spa Rama Shinta rasakan terhadap kondisi perekonomian petani garam di Indonesia hingga saat ini.
8 tahun menyelami dunia Dinas Kelautan dan Perikanan sebagai petugas pendamping program garam di Kabupaten Cirebon, membuat hatinya tergerak untuk meningkatkan kualitas taraf hidup para petani yang tak kunjung membaik maupun berkembang.
Septi Ariyani, seorang wanita berusia 40 tahunan sekaligus ibu rumah tangga dan pelaku usaha garam spa atau bath salt untuk perawatan kulit yang berasal dari Kabupaten Cirebon ini sudah lakoni bisnis tersebut sejak 5 tahun lalu. Tepatnya, pada tahun ke 8 sekaligus tahun terakhir ia bekerja di Dinas Kelautan Kabupaten Cirebon.
Wanita berdarah Yogyakarta dan Cirebon ini mengaku, awal memulai bisnis ini berangkat dari keprihatinan terhadap harga garam yang dijual petani kepada pasar, yaitu Rp. 350,- perkilo. Hal tersebut membuatnya tergerak untuk membuat usaha garam spa ini.
Dengan diawali menjelajahi internet guna mencari tahu dan mempelajari manfaat serta fungsi garam sesungguhnya. Septi yakin jika garam tidaklah hanya dapat digunakan untuk bahan pelengkap masakan saja, melainkan untuk perawatan atau kesehatan kulit dari luar.
Dia mendampingi petani garam untuk mendapatkan program garam dari kementerian kelautan dan perikanan. Dirinya tergerak untuk membantu para petani garam yang menghadapi masalah di pemasaran.
“Mereka bisa produksi tapi tidak bisa memasarkan. Adapun bisa dipasarkan tapi harganya tidak sepadan dengan proses pembuatan garamnya, karena mungkin mereka (petani) kurang tahu kualitas artinya kualitasnya itu si garam tidak bersih masih ada pasir atau material asing lainnya. Hingga, akhirnya saya jadi pendamping itu dan saya tahu quality dan mencoba membantu untuk memasarkan produknya, tapi bukan garam ini (garam spa) melainkan garam industri untuk pangan,” ujarnya kepada FC, Minggu (4/10).








Tinggalkan Balasan