“Kami minta maaf kepada seluruh masyarakat atas kekhilafan, apa yang kami lakukan ini semata-mata saya dan putra-putri Djatikusumah yang lain ingin menunaikan amanat ayah,” ujar Gumirat.

Tentang penolakan masyarakat yang dilandasi kekhawatiran tempat itu akan dijadikan tempat pemujaan, Gumirat menyatakan dengan tegas bahwa mereka tidak akan menjadikan tempat itu sebagai tempat pemujaan atau tempat ritual komunitas Penghayat Kepercayaan. Bahkan, kakek buyutnya, yaitu Madrais, berwasiat agar tidak menjadikan pusaranya sebagai tempat pemujaan.

“Teu meunang muja-muji munjung ka makam Uyut, itu pesan dari uyut Madrais. Jadi kami tidak akan menjadikan pusara Djatikusuma sebagai tempat pemujaan. Kami siap untuk membuat pernyataan hitam diatas putih terkait pusara itu tidak akan menjadi tempat pemujaan,” jelas Gumirat.

Menanggapi penuturan Pupuhu Adat, Ketua MUI Kiai Dodo Syarif Hidayatullah menyatakan bahwa masalah itu berkembang memunculkan berbagai asumsi yang berbeda-beda karena ketiadaan komunikasi.