Sudianto menuturkan, pihaknya juga tidak menarik biaya, bagi siapa saja yang mau bergabung dan berlatih memainkan gong renteng. Setiap minggunya, mereka menggelar tiga kali latihan.

“Latihannya malam Rabu, malam Sabtu dan Minggu pagi, semuanya gratis,” kata Sudianto.

Untuk menjaga kondisi Gong Renteng Ki Muntili yang bersejarah, Sudianto akhirnya membuat replika gong tersebut, untuk dijadikan alat berlatih. Sedangkan, Gong Renteng Ki Muntili, disimpan di museum desa yang berada di Kantor Desa Kedungsana dan hanya dikeluarkan ketika acara muludan (maulid nabi).

“Kalau muludan, gongnya dicuci, kemudian dimainkan,” kata Sudianto.

Saat awal melakukan pelatihan, pihaknya harus mengundang pelatih dari Keraton Kasepuhan. Karena saat itu, belum ada yang bisa melatih gong renteng.