02/09/2019
417 Views
Oleh: Hasan Basri
KARAWANG, tintabiru.com/ – Seorang bocah asal Lingkungan Dipo, Kelurahan Nagasari, Kecamatan Karawang Barat, Minggu (1/8/2019) sore terpaksa dilarikan ke rumah sakit, setelah perutnya tertembus anak panah yang keluar dari busur panah milik seorang atlet panahan Kabupaten Karawang yang tengah menggelar latihan memanah di sebuah lapangan dekat rumah korban.

Kejadian ini bermula saat sebuah club panahan yang masuk dalam daftar Pengurus Cabang KONI Kabupaten Karawang, Minggu (1/8/2019) siang menggelar latihan memanah di sebuah lapangan milik pengusaha bernama Moksen.
Namun, karena latihan yang digelar bukan jadwal latihan yang ditentukan oleh Pengurus Cabang KONI Kabupaten Karawang, maka latihan olahraga memanah ini hanya diikuti kurang dari 10 atlet panahan.
Saat salah seorang atlet panahan terbaik Kabupaten Karawang melepaskan anak panah dari busurnya, tiba-tiba anak panah itu mengenai tubuh seorang bocah bernama Muhammad Rifky Ramadhan Aulia (9) yang tengah bermain di lokasi tersebut.
“Areal itu adalah lapangan sepakbola terbuka yang sering digunakan warga lingkungan Dipo, Kelurahan Nagasari untuk berolahraga. Namun sangat berbahaya jika lokasi terbuka ini dipakai untuk latihan memanah, “kata Supardi Nugraha (62), kakek korban.
BACA JUGA: Keluarga Rifky Ramadhan: Tak Satupun Pengurus KONI Karawang Jenguk Korban!
Dikatakan dia, anak panah itu menancap di bagian perut hingga menembus bagian belakang tubuh korban.
“Selaku kakeknya, tentu saya sangat khawatir atas kejadian yang menimpa cucu saya yang menjadi korban kejadian ini. Sehingga saya bersama dengan orang tua korban langsung membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan, “tambahnya.
Mulanya, kata Supardi, korban yang merupakan buah hati dari pasangan Dedi Handra dan Tina Datina Nugraha ini dibawa ke RS Dewi Sri. Namun pihak RS Dewi Sri kemudian merujuknya ke RSUD Karawang. Karena Rumah Sakit plat merah milik Pemkab Karawang itu tidak memiliki peralatan lengkap, korban kemudian dibawa ke salah satu rumah sakit yang ada di daerah Cibitung Kabupaten Bekasi.
“Di rumah sakit Cibitung Kabupaten Bekasi kami hanya transit saja, karena pihak rumah sakit disana menyatakan tidak sanggup sehingga akhirnya kami membawa korban ke rumah sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, “tandas Supardi Nugraha. (*)

