KAB. CIREBON, (FC).- Di masa pandemi Covid-19, Warkina, penggiat literasi asal Kecamatan Suranenggala Kabupaten Cirebon masih bisa terus bergiat.

Berbagai model inovasi dilakukannya untuk tetap dapat menumbuhkan minat baca masyarakat di tengah segala keterbatasan karena pandemi.

Diakuinya, pandemi Covid-19 telah membuat akses kegiatan Balai Wiyata Center Pado Maco yang didirikannya banyak terhambat.

Contohnya, adanya pembatasan jumlah orang yang diberlakukan pemerintah dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19.

Namun kendala itu tak membuat semangatnya melemah. Ia pantang surut. Baginya, tidak ada batasan atau yang membatasi dirinya dalam berinovasi di tengah kondisi sekarang.

“Bagaimana agar kegiatan ini tetap berjalan, kita menggunakan berbagai inovasi, bahkan inovasi yang pamungkas. Mau tidak mau harus dikerahkan seribu bentuk pemodelan,” jawab Warkina saat ditemui FC di balai Pado Maco di kediamannya pekan lalu.

Peraih sejumlah penghargaan tingkat provinsi dan nasional sebagai tokoh penggerak literasi itu menemukan tiga model pembelajaran literasi. Pemodelan ini dianggap mengena diaplikasikan di masa pandemi.

Diantaranya mengadakan program Jumat Berkah yang menyediakan Gerobak Berbagi bubur kacang gratis di jalan raya dekat rumahnya. Disamping gerobak berbagi itu digelar berbagai buku bacaan.

“Alhamdulillah hampir berjalan satu tahun ini adanya Jumat Berkah melalui Gerobak Bubur Kacang. Disitu saya juga tetap melakukan kegiatan (literasi), di sebelahnya itu tetap gelar baca,” ujarnya.

Tujuan Gerobak Berbagi Jumat Berkah ini selain berbagi sedekah juga menarik minat baca masyarakat.

“Jadi bersandingan antara Bubur Kacang dengan Gelar Baca itu. Lokasinya di Jalan Raya. Sasarannya banyak disitu yang mengambil, karena disitu ada tulisan siapapun yang mengambil, terutama dari tukang becak, sopir angkot, pejalan kaki atau masyarakat sekitar,” jelasnya

Di bulan Ramadan ini, kata dia, program tersebut akan digelar setiap hari saat menjelang waktu berbuka puasa.

“Di bulan puasa juga kita pantang surut untuk melakukan kegiatan. Insya Allah yang tadi Jumat Berkah itu sekarang diadakan setiap hari selama Ramadan,” ujar Warkina

Selain itu, bentuk kegiatan literasi lainnya yang akan dijalankan di bulan Ramadan adalah melalui aplikasi zoom.

“Kita akan berkerjasama dengan remaja untuk literasi yang berbau religi. Konsepnya dikemas dalam bentuk zoom atau selebaran yang isinya tentang syiar-syiar Islam. Jadi semacam tausiah tapi lewat zoom atau lewat media sosial,” ungkapnya

Berbagai inovasi untuk menarik minat baca dilakukan Warkina, salah satunya dengan mengadakan program Gerobak Berbagi yang diadakan setiap hari Jumat. (Foto Dok Balai Pado Maco)

Dirikan PAUD Berbasis Literasi

Perlu diketahui juga, Balai Wiyata Center Pado Maco kini telah memiliki PAUD yang sudah berdiri sejak 3 bulan lalu. Konsep pembelajaran yang diterapkan PAUD ini berbeda dengan pada umumnya.

“Dalam tiga bulan pado maco sudah memunculkan PAUD Balai Baca yang berbasis literasi. Jadi pembelajarannya itu berbasis literasi,” kata Warkina

Sistem pembelajaran PAUD pada umumnya, lanjut Warkina, lebih ke pengenalan angka-angka, huruf dengan tulisan dan gambar.

Tapi di PAUD yang didirikannya ini lebih ke pengenalan langsung dengan menghadirkan obyek atau benda sebagai alat peraga media pembelajaran.

“Misalnya mengenal kendaraan-kendaraan bermotor, itu langsung ada motornya disini. Jadi orang akan langsung melihat bentuk spion dan fungsinya untuk apa, ban mana ditunjukan. Langsung dengan alat peraga. Jadi pembelajaran berbasis literasi ini langsung ke penerapannya,” paparnya

Sistem pengenalan langsung ini dianggap lebih mudah dan cepat terserap memori anak usia dini. Menurutnya, penerapan sistem pembelajaran ini tetap mengacu kepada kurikulum yang berkaitan dengan PAUD.

Tujuh Tahun Berkiprah dengan Sederet Prestasi

Menggiatkan literasi digeluti Warkina sejak 7 tahun silam. Diawali dengan berkeliling dari satu tempat ke tempat lain menggelar buku-buku bacaan.

Seiring berjalannya waktu, kegiatan pengembangan literasi yang dilakukan Warkina mulai mendapatkan apresiasi secara formil.

Ia diikutkan dalam kompetisi Pemberdayaan Masyarakat Melalui Gerakan Literasi yang diadakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat tahun 2017.

“Diikutkan melalui dinas pemberdayaan. Waktu itu saya masuk dalam perwakilan Kabupaten Cirebon, masuk sebagai pelopor pendidikan kemasyarakatan,” katanya

Keikutsertaannya di ajang kompetisi tingkat provinsi yang diikuti perwakilan peserta dari masing-masing kota dan kabupaten di Jawa Barat ini membuahkan hasil.

Warkina meraih juara pertama dan dinobatkan sebagai Pelopor Pemberdayaan di Bidang Pendidikan Tingkat Provinsi Jabar.

Setelah itu, ia diikutkan kembali di ajang Nugra Jasa Darma Pustaloka. Lagi-lagi, Warkina terpilih sebagai satu-satunya perwakilan dari Kabupaten Cirebon

Di ajang penghargaan bergengsi yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional (Perpunas) tahun 2018 ini Warkina mengangkat model kegiatan literasi yang dilakukannya secara mobile. Kegiatan ini sudah dilakukan Warkina sejak tahun 2015.

“Saya memunculkan suatu gerakan sadar baca melalui Pado Maco dengan mobile, keliling. Kegiatan saya berbeda dengan yang lainnya. Saya keliling di event-event strategis, seperti di pasar malam, di tempat hiburan organ, saya masuk kesitu. Ternyata bisa diterima di dunia hiburan itu,” ujarnya

Kemudian di tahun 2019, Warkina kembali menorehkan prestasi yang membanggakan Kabupaten Cirebon. Ia meraih penghargaan Een Sukaesih Award 2019 dan dinobatkan sebagai tokoh inspiratif. Event 2019 ini diselenggarakan oleh Pemprov Jabar.

“Kemudian saya juga masuk dalam 10 penghargaan Frans Seda Award yang diadakan oleh Universitas Atma Jaya. Itu (pesertanya) se-Indonesia masuk dalam 10 besar,” jelas Warkina. (Andriyana)