KUNINGAN, (FC).- Puluhan warga Desa Randusari, Kecamatan Cibeureum, mendatangi Gedung DPRD Kuningan, Senin (15/9).

Mereka menyampaikan keluhan terkait dampak keberadaan Bendungan Kuningan, terutama bau tak sedap yang disebut mengganggu aktivitas masyarakat sehari-hari.

Audiensi yang difasilitasi DPRD Kuningan tersebut diikuti warga bersama Kepala Desa Randusari, Tata Kasta. Mereka berharap pemerintah segera memberikan solusi atas persoalan lingkungan yang dirasakan sejak bendungan beroperasi.

Tata mengatakan, salah satu keluhan utama masyarakat adalah munculnya bau tidak sedap di sekitar area bendungan. Selain itu, warga juga mengkhawatirkan kondisi permukiman yang berada dekat dengan lokasi pembuangan air bendungan.

“Kurang lebih sekitar 40 warga yang datang. Mereka ingin menyampaikan langsung keresahan yang selama ini dirasakan,” ujar Tata.

Menurutnya, sejumlah rumah warga berada cukup dekat dengan area pembuangan air Bendungan Kuningan. Jarak antara permukiman dengan lokasi tersebut diperkirakan hanya sekitar 20 meter.

Kondisi itu membuat warga yang tinggal di sekitar lokasi merasa khawatir terhadap keamanan dan kenyamanan lingkungan tempat tinggal mereka.

“Kekhawatiran masyarakat cukup tinggi. Harapannya, warga yang berada paling dekat dengan pembuangan air bisa ditinjau kembali, apakah perlu direlokasi atau ada solusi lain,” katanya.

Selain persoalan bau, warga juga mempertanyakan kualitas air sumur yang digunakan masyarakat sekitar. Tata menyebut, berdasarkan pemantauan Dinas Kesehatan, sejumlah sumur warga memiliki kandungan bakteri E. coli yang cukup tinggi sehingga tidak layak digunakan sebagai air minum.

“Dari Dinas Kesehatan sudah memantau bahwa air sumur masyarakat di sekitar itu memang E. coli-nya tinggi dan sudah tidak layak minum,” ungkapnya.

Tata menjelaskan, terdapat sekitar 150 rumah dalam satu dusun yang berada di wilayah tersebut. Namun, warga tidak meminta seluruh permukiman direlokasi.

Menurutnya, pemerintah perlu melakukan kajian untuk menentukan rumah-rumah yang berada dalam zona paling dekat dengan area pembuangan dan memiliki risiko lebih tinggi.

“Kalau satu dusun kurang lebih 150 rumah, tetapi yang perlu ditinjau adalah rumah-rumah yang memang berada paling dekat dengan lokasi,” jelasnya.

Tata menyebut, persoalan tersebut sebenarnya sudah pernah disampaikan kepada pihak terkait. Bahkan, sekitar dua tahun lalu anggota DPR RI H. Rokhmat Ardiyan disebut telah meninjau kondisi sekitar Bendungan Kuningan.

Namun, hingga kini warga mengaku belum merasakan adanya tindak lanjut konkret.

“Makanya sekarang kami kembali bersurat ke DPRD Kabupaten Kuningan agar bisa diteruskan ke DPR RI dan ada tindak lanjut,” ujarnya.

Dalam audiensi tersebut, warga juga membawa dua galon air yang disebut berasal dari sekitar kawasan bendungan. Air tersebut dibawa sebagai bentuk bukti keluhan warga terkait bau dan kualitas air lingkungan.

Pemerintah Desa Randusari berharap audiensi tersebut menjadi langkah awal untuk mendapatkan solusi. Warga meminta pemerintah segera melakukan kajian menyeluruh terkait kondisi lingkungan, kualitas air, serta keberadaan permukiman yang berada di sekitar area pembuangan Bendungan Kuningan.

Masyarakat berharap persoalan tersebut tidak berhenti pada penyampaian aspirasi, tetapi dapat ditindaklanjuti dengan langkah nyata demi keamanan dan kenyamanan warga. (Angga)