KAB. CIREBON, (FC).- Ratusan warga Desa Beringin, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon mengalami kesulitan air bersih, pasalnya sumber air di rumah milik warga mulai mengering. Bahkan debit air sudah tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.

Hal ini dampak kemarau panjang yang melanda, sehingga mengakibatkan sumber air bagi warga mulai berkurang dan sulit didapat, bahkan kekeringan pun melanda ratusan hektare lahan pertanian di desa tersebut.

Salah seorang warga desa setempat Rawit menyebut, sebagian besar warga Beringin mengalami kesulitan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Hal ini dikarenakan, sumber air milik warga sudah mengalami kekeringan, dan debit air yang ada di sumur dangkal atau sumur bor sudah mengalami penurunan debit airnya, sehingga warga mengalami kesulitan mendapatkan sunber air bersih.

“Kalau ada juga airnya kecil, untuk ember ukuran 5 liter saja makan waktu hingga berjam-jam untuk penuh, bahkan di salah satu sumur warga debit air nya hanya cukup untuk satu ember saja,” katanya, kemarin.

Rawit pun menyebut, untuk kebutuhan air bersih, warga mengandalkan dengan membeli air isi ulang atau meminta kepada warga sekitar yang masih ada sumber air.

Menurutnya, sumber air di sini bisa dikatakan tidak layak konsumsi, karena air berasa agak payau, jadi sumber air itu hanya digunakan warga untuk kebutuhan mandi maupun mencuci saja. “Kalau untuk minum dan lainnya kebanyakan membeli air isi ulang, atau meminta di rumah warga yang sumber airnya dikatakan layak konsumsi, ” ungkapnya.

Dirinya berharap ada bentuk perhatian dan solusi dari pemerintah untuk mengatasi permasalahan kesulitan mendapatkan air layak konsumsi di desanya. “Kalau ada bantuan sarana air bersih warga gak lagi mengalami kesulitan air bersih setiap tahunnya, ” harapnya.

Sementara, Sekdes Beringin, Supriyadi mengatakan, kesulitan air bersih di desanya sudah terjadi bertahun‐tahun. Menurutnya, sumber air di pemukiman warga pada dasarnya ada, namun untuk kelayakanya tidak semua sumber air di rumah warga itu layak dikonsumsi.

“Kebanyakan sumber air warga memang hanya untuk mandi dan mencuci saja, kalau untuk minum dan lainnya kebanyakan beli isi ulang,” jelasnya.

Dijelaskannya, sedikitnya ada sekitar 400 Kepala Keluarga (KK) atau lebih kurangnya 1.600 jiwa, dari total 1.200 KK atau 3.765 jiwa yang ada di Desa Beringin yang terdampak kesulitan mendapatkan air bersih.

Ditambahkannya, kebanyakan warga yang memiliki sumber air dari sumur dangkal dengan kedalaman 4 sampe 5 meter, memang mengalami kesulitan air, untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga mengambil atau meminta air dari warga sekitar yang masih ada sumber air.

“Ya hampir sebagian besar warga kesulitan air bersih, dan kemarau tahun ini terbilang ekstrem,” katanya.

Supriyadi menyebut, Desa Beringin di saat musim hujan sumber air melimpah bahkan hingga merendam ke pemukiman, namun di saat musim kemarau kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari warganya. Bahkan setiap tahunnya kemarau pun berdampak terhadap ratusan hektare laham pertanian mengalami kekeringan.

Untuk mengatasi permasalahan kesulitan air bersih yang dialami warganya, pihalnya sudah membuat usulan untuk mendapatkan bantuan sdh di usulkan ke dinas terkait, namun usulan tersebut hingga kini belum ada realisasinya.

“Kami berharap ada bantuan maupun solusi untuk mengatasi permasalahan yang kerap dialami warganya setiap tahunnya, ” pungkas Supriyadi. (Nawawi)