UNISA Kembangkan Beas Perelek Jadi Jaring Pengaman Sosial Desa
KUNINGAN, (FC).- Tradisi Beas Perelek yang selama ini menjadi simbol gotong royong masyarakat Sunda mulai dikembangkan dalam kajian akademik. Universitas Islam Al-Ihya (UNISA) Kuningan melalui tim dosennya melakukan penelitian untuk menjadikan tradisi tersebut sebagai model perlindungan sosial berbasis kearifan lokal.
Penelitian bertajuk “Revitalisasi Beas Perelek sebagai Instrumen Jaring Pengaman Sosial: Penguatan Ketahanan Sosial Desa Ciasih” itu bertujuan menggali kembali nilai solidaritas masyarakat desa agar mampu menjadi solusi menghadapi tantangan sosial dan ekonomi.
Ketua tim peneliti UNISA Kuningan, Asep Nugraha, mengatakan Beas Perelek tidak hanya sebatas tradisi mengumpulkan beras, tetapi memiliki nilai kepedulian dan kebersamaan yang kuat di tengah masyarakat.
“Beas Perelek bukan hanya tradisi mengumpulkan beras, tetapi juga mencerminkan kepedulian dan solidaritas masyarakat. Karena itu, kami ingin melihat bagaimana nilai tersebut dapat diperkuat menjadi sebuah model perlindungan sosial yang relevan dengan kondisi desa saat ini,” ujar Asep.
Menurutnya, perubahan zaman menjadi salah satu tantangan bagi keberlangsungan tradisi tersebut. Perubahan pola hidup masyarakat, urbanisasi, migrasi ekonomi, perubahan struktur keluarga, hingga meningkatnya sikap individualisme dinilai dapat menggerus semangat gotong royong.
Melalui penelitian ini, UNISA Kuningan berupaya merancang tata kelola Beas Perelek yang lebih sistematis, transparan, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Yang kami dorong bukan sekadar menghidupkan kembali tradisinya, tetapi bagaimana Beas Perelek memiliki tata kelola yang jelas, transparan dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan,” katanya.
Selain mengkaji aspek sosial, penelitian tersebut juga melihat Beas Perelek dari perspektif hukum ekonomi syariah. Konsep ta’awun atau saling menolong serta keadilan distributif menjadi landasan dalam pengembangan model revitalisasi.
Asep menilai nilai gotong royong dalam Beas Perelek memiliki keselarasan dengan prinsip saling membantu dalam ekonomi syariah.
“Nilai gotong royong yang ada dalam Beas Perelek sangat sejalan dengan prinsip ta’awun. Tinggal bagaimana nilai tersebut dikembangkan dengan model yang sesuai sehingga bisa menjadi kekuatan sosial masyarakat,” jelasnya.
Dalam proses penelitian, tim menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan pendekatan mixed methods. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, observasi lapangan, wawancara mendalam, focus group discussion (FGD), hingga survei mengenai tingkat partisipasi masyarakat, kepercayaan sosial, serta manfaat Beas Perelek.
Penelitian tersebut dilaksanakan melalui lima tahapan, mulai dari studi pendahuluan dan analisis kebutuhan, penyusunan model awal, validasi ahli dan pemangku kepentingan, uji coba terbatas di tingkat RT/RW, hingga penyusunan rekomendasi kebijakan.
Tim penelitian dipimpin Asep Nugraha, dosen Perbankan Syariah UNISA Kuningan, bersama Imam Dwi Putranto dan Arif Fauzan sebagai anggota peneliti. Dalam proses pengumpulan data, penelitian juga melibatkan mahasiswa Perbankan Syariah, Cindy Maulida.
Pengembangan penelitian tersebut dirancang dalam roadmap hingga 2029. Pada tahap awal 2025–2026, fokus penelitian diarahkan pada kajian dasar mengenai revitalisasi Beas Perelek.
Tahap berikutnya akan diarahkan pada penguatan sinergi dengan sistem perlindungan sosial desa, pengembangan model yang dapat diterapkan di wilayah lain, hingga digitalisasi tata kelola.
Sejumlah luaran juga ditargetkan dari penelitian tersebut, mulai dari artikel ilmiah, rancangan Peraturan Desa tentang penguatan jaring pengaman sosial berbasis kearifan lokal, buku ber-ISBN, Hak Kekayaan Intelektual (HKI), hingga model revitalisasi Beas Perelek.
Asep berharap hasil penelitian tersebut tidak hanya bermanfaat bagi Desa Ciasih, tetapi juga dapat menjadi contoh bagi desa lain dalam mengembangkan sistem perlindungan sosial berbasis budaya lokal.
“Harapannya, Beas Perelek tidak berhenti sebagai warisan budaya. Dengan model yang tepat, tradisi ini bisa menjadi salah satu kekuatan masyarakat dalam membantu kelompok rentan dan memperkuat ketahanan sosial desa,” pungkasnya.
Melalui penelitian ini, UNISA Kuningan berupaya menjadikan kearifan lokal sebagai bagian dari solusi persoalan sosial masyarakat. Beas Perelek diharapkan berkembang dari sekadar tradisi berbagi menjadi mekanisme solidaritas sosial yang lebih terstruktur, adaptif, dan berkelanjutan. (Angga)








Tinggalkan Balasan