KAB. CIREBON, (FC).- Transformasi digital di era industri 4.0 yang tengah terjadi saat ini, membuat manusia harus melakukan adaptasi atau penyesuaian kehidupan dalam berbagai bidang, salah satunya adalah dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.

Seperti, belanja atau jualan secara online, kemudian pembelajaran melalui online, layanan pemerintahan juga online, pembayaran online, perbankan online, dan sebagainya.

Termasuk pula di dalam dunia batik, perlu melalukan inovasi atau terobosan baru yang lebih kekinian dengan pemanfaatan Quick Respose Code (QR Code) sebagai motif batik kontemporer.

QR Code sebagai salah satu bentuk budaya era digital, dapat dimanfaatkan untuk dijadikan motif batik kontemporer Trusmi, Kabupaten Cirebon, agar menarik minat generasi muda.

Baik sebagai produsen yang melestarian budaya membatik maupun sebagai konsumen yang menghargai batik dengan cara menggunakan motif batik QR Code tersebut.

QR Code yang dihasilkan oleh aplikasi QR Generator dan berbentuk unik untuk setiap konten yang dipresentasikannya, yang kemudian dibaca dengan cara discan dengan aplikasi QR scanner/reader.

Hal ini sangat berpotensi untuk terus dikembangkan dan digunakan sebagai motif batik kontemporer.

QR Code yang dihasilkan dapat berisi berbagai konten, mulai dari berupa teks (misalnya nama toko, nama motif, nama pengrajin, alamat, dan sebagainya), gambar atau foto, kartu nama, sampai konten berupa video.

Dengan demikian, QR Code tersebut juga dapat digunakan sebagai media promosi untuk menarik minat konsumen dan meningkatkan penjualan.

Hal inilah yang kemudian dicoba dilakukan oleh pengrajin batik kontemporer Trusmi Kabupaten Cirebon. Selain menciptakan motif batik kontemporer, upaya tersebut juga untuk mendekatkan generasi muda yang sudah terbiasa dengan teknologi digital dengan batik sebagai budayanya.

Hal tersebutlah yang coba didorong dan dikembangkan oleh Tim Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat UNPAD dengan skema Academic Leadership Grant (ALG) yang diketuai oleh Eman Suparman dengan anggota Enni Soerjati, Muhamad Amirulloh, dan Ema Rahmawati.

Tim tersebut juga melibatkan mahasiswa S1 dan S3 FH Unpad, yaitu William Prasetyo dan Nelly Novianti.

Menurut Eman, kegiatan ini memberikan sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran hukum masyarakat Desa Trusmi dalam hal perlindungan hak cipta motif batik kontemporer.

Tim ALG juga mendampingi dan membiayai pencatatan hak cipta dari motif batik QR Code yang dihasilkan pengrajin batik Trusmi kepada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM RI.

“Dengan upaya ini, tim penelitian dan pengabdian pada masyarakat berharap, semakin dimanfaatkannya teknologi dalam kegiatan produksi Batik Trusmi, khususnya penggunaan QR Code sebagai motif batik kontemporer Trusmi.

Serta, semakin tertariknya generasi muda di era digital untuk menggunakan batik kontemporer QR Code, sehingga pada akhirnya mampu meningkatkan perekonomian pengrajin batik Trusmi,” ujarnya di Gedung Serba Guna Desa Trumi Kulon, Senin (25/10).

Eman menjelaskan, sengaja dirinya mengambil riset di Desa Trusmi Kulon, Kabupaten Cirebon, karena di Trusmi memiliki batik tulis dan batik printing.

Batik tulis itu pengrajinnya harus mendapat perlindungan hukum, yaitu didaftarkan hak ciptanya dan memiliki sertifikat hak cipta.

“Tim kami, ingin memadukan hal-hal tradisional dengan hal kekinian yaitu teknologi informasi seperti QR Code. Kami akan memfasilitasi para pengrajin, apabila sudah memiliki motif akan kami daftarkan ke Kementerian Hukum dan HAM RI dan kami yang akan membiayai mereka,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya melakukan pengabdian kepada masyarakat dalam rangka memberikan pemahaman terkait dengan hukum dan hak cipta. Karena, kata Eman, tujuan hukum tersebut untuk mensejahterakan para pengrajin. (Ghofar)