KAB. CIREBON, (FC).- Kesedihan masih dirasakan para pedagang Pasar Induk Sandang Tegalgubug, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, pascakebakaran yang menghanguskan puluhan kios di Blok E, Sabtu (1/8) malam.

Salah satunya Dulhadi, pedagang yang tiga kios miliknya ludes terbakar dalam musibah tersebut.

Minggu (2/8), Dulhadi terlihat membersihkan puing-puing sisa kebakaran di lokasi kios miliknya. Ia mengaku mengetahui peristiwa tersebut setelah mendapat kabar saat berada di rumah sekitar pukul 21.00 WIB.

Ketika tiba di pasar, kobaran api sudah membesar dan sulit dikendalikan. Ia pun hanya bisa menyaksikan kios yang menjadi sumber penghidupan keluarganya selama puluhan tahun dilalap api.

“Saya malam sekitar jam 9 dari rumah, api sudah besar. Saya tidak tahu asal-usul api muncul dari mana. Sampai sini sudah besar, terus saya bilang sama istri kalau kios saya kebakaran. Sudah ada pemadam kebakaran, saya hanya bisa diam melihat los sudah terbakar,” ujar Dulhadi.

Akibat kebakaran tersebut, tiga kios miliknya hangus terbakar. Beruntung, sejumlah barang dagangan seperti pakaian, handuk, dan kerudung sudah dipindahkan ke rumah sehingga tidak ikut menjadi korban.

“Yang terbakar tiga kios. Kalau barang dagangan sudah dibawa pulang semua. Jadi yang habis itu bangunan kiosnya,” katanya.

Meski stok dagangan berhasil diselamatkan, Dulhadi mengaku tetap mengalami kerugian besar karena kios tersebut merupakan aset usaha yang telah menjadi tumpuan ekonomi keluarga selama sekitar 20 tahun.

“Saya syok dan sedih. Ekonomi lagi susah, tempat usaha untuk menghidupi keluarga malah kebakaran,” ungkapnya.

Dulhadi berharap kebakaran yang kembali terjadi di Pasar Sandang Tegal Gubug menjadi kejadian terakhir. Ia berharap ada langkah perbaikan agar para pedagang dapat kembali berjualan dengan rasa aman.

“Harapan saya, semoga tidak sampai diulang lagi. Pedagang pengennya aman saja supaya bisa usaha dengan tenang,” tuturnya.

Menurut Dulhadi, dirinya telah berjualan di Pasar Sandang Tegal Gubug sejak pasar tersebut masih dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan sandang terbesar di Asia Tenggara. Tiga kios yang terbakar merupakan miliknya secara sah dan telah memiliki sertifikat.

“Dulu beli satu kios sekitar Rp150 juta. Saya punya tiga kios atas nama sendiri dan semuanya bersertifikat. Sekarang semuanya habis terbakar,” jelasnya.

Ia juga menyebut tidak memiliki perlindungan asuransi terhadap kios-kios miliknya. Kondisi tersebut juga dialami sebagian besar pedagang lain karena selama ini pasar dikelola oleh pemerintah desa.

“Kalau asuransi tidak ada. Hampir semua pedagang di sini tidak ada yang mengasuransikan kiosnya. Pasar ini dikelola oleh desa,” pungkasnya.

Sebelumnya, kebakaran kembali melanda Pasar Sandang Tegal Gubug pada Sabtu malam. Sebanyak 46 lapak, terdiri dari 45 lapak di Blok E dan satu lapak di Blok H, terbakar. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. (Johan)