KOTA CIREBON, (FC).- Tak hanya ajarkan seni tari, Sanggar Seni Salsabila Art, yang berada di Kelurahan Kesenden Kota Cirebon pun produksi kostum-kostum karakter pewayangan seperti Lutung Kasarung dan Hanoman, juga kostum-kostum keren lainnya.

Tak hanya sampai disitu, sang pemilik sanggar, Sarman Firmansyah pun menggunakan sebagian bahan kostumnya dari bahan baku bekas seperti tutup botol.

Diakui Sarman, sanggar yang juga sekaligus tempat pembuatan kostum ini terbilang baru, karena baru 1 tahun berjalan.

“Mulai belajar sudah lama, tapi baru benar-benar dimaksimalkan dan produksi itu 1 tahun terakhir ini,” ujar Sarman, Senin (15/12).

Berlokasi disebuah gang tepatnya di Jalan Kapten Samadikun, Gang Melati, Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Kejaksaan, Kota Cirebon lah berbagai kostum pentas dibuat.

Mulai dari kostum untuk festival yang megah hingga kostum Hanoman dan Lutung dibuat bersama rekan-rekan di sanggarnya.

Pada kostum Hanoman dan Lutung sendiri fokus pembuatannya lebih kepada mahkota, topeng, sarung tangan, juga aksesoris kaki dan tangan lainnya.

Pada bagian mahkota atau kepala inilah terdapat tutup botol, juga bahan utama seperti spon.

“Tetap ada yang perlu dibeli ga semuanya dari bekas, tapi lumayan sedikit barang bekas dapat mengurangi sampah juga,” kata Sarman.

Masih kata Sarman, dalam pembuatan aksesoris dan kostum ini pun tentunya dibantu oleh anak-anak yang ikut berlatih tari di sanggarnya.

“Pastinya sesuai dengan kemampuan anak-anak tersebut, meski terdapat kesalahan Sarman masih memakluminya,” ucapnya.

Pembuatan kostum atau aksesorisnya sendiri dimulai dari penggambaran dan pengguntingan pola, penyatuan, penambahan manik-manik atau hiasan, hingga pewarnaan.

Sementara itu, Danis (12) yang telah bergabung di sanggar tersebut mengaku memgaku sangat menyenangkan.

“Iya, seneng banget karena kan suka nari, aku juga cita-cita jadi penari. Trus bantu bikin topeng seru,” ungkap remaja putrid yang akrab disapa Anis.

Seorang gadis lainnya Jesika menyampaikan, dalam membantu membuat kostum ini perlu keseriusan karena, dirinya pun kerap kali lakukan sedikit kesalahan.

Meski begitu, Jesika tak pernah berkecil hati. Karena, Sarman selaku pemilik sanggar tak pernah keluhkan asalah tersebut.

Adapun harapan anak-anak juga Sarman, adalah sanggar seninya dapat berkembang lebih baik, dan dapat melanglangbuana hingga keluar negeri baik karya seni tari maupun seni kerajinan. (Sarrah/Job/FC)