Siswi SMAN 1 Jamblang Dilarikan ke Rumah Sakit Usai Diduga Konsumsi Roti MBG
KAB.CIREBON, (FC).- Seorang siswi di SMAN 1 Jamblang, Kabupaten Cirebon, dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami mual dan muntah-muntah usai mengonsumsi roti yang dibagikan melalui program MBG.
Kepala SMAN 1 Jamblang, Indra Gunawan, mengatakan pihak sekolah menerima informasi mengenai kondisi siswi tersebut setelah salat tarawih pada Selasa malam (10/3).
“Setelah tarawih kami mendapat kabar bahwa ada siswi yang mengalami mual dan muntah-muntah setelah mengonsumsi roti dari MBG,” ujarnya, Rabu (11/3).
Indra menjelaskan, roti yang dibagikan kepada siswa tersebut tidak mencantumkan merek maupun tanggal kedaluwarsa. Setelah mendapat laporan tersebut, pihak sekolah langsung berkoordinasi dengan wali kelas untuk menghubungi keluarga siswi yang bersangkutan guna memastikan kondisinya.
Menurutnya, siswi tersebut mengonsumsi roti saat berbuka puasa di rumah. Tidak lama kemudian ia mengalami mual dan muntah-muntah sehingga orang tuanya membawa yang bersangkutan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
“Saya bersama beberapa guru tadi pagi menjenguk siswi tersebut di rumah sakit. Berdasarkan informasi sementara, gejala mual dan muntah diduga akibat adanya bakteri dari makanan,” katanya.
Saat ini siswi tersebut masih menjalani perawatan dan observasi di rumah sakit karena baru masuk pada Selasa malam. Meski yang bersangkutan ingin kembali bersekolah, pihak rumah sakit belum mengizinkan pulang.
Indra menambahkan, pihak sekolah telah berkoordinasi dengan pihak SPPG agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
“Kami meminta pihak SPPG lebih teliti dalam memilih makanan yang akan dibagikan. Jika berupa roti, sebaiknya ada merek dan tanggal kedaluwarsa sehingga jelas masa konsumsi yang aman. Jika tidak seperti itu, pihak sekolah akan menolak,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Bakung Lor, Orlander, menjelaskan mekanisme pengolahan dan distribusi makanan kepada siswa telah melalui sejumlah tahapan pemeriksaan sebelum dibagikan.
Ia mengatakan, setiap bahan makanan yang datang dari pemasok terlebih dahulu diperiksa saat tiba di dapur untuk memastikan kualitas dan kelayakannya.
“Setiap bahan yang datang dari supplier kami periksa terlebih dahulu di dapur. Bahkan bumbu yang digunakan juga kami cek sebelum dimasak dan didistribusikan kepada para siswa,” ujarnya.
Orlander menjelaskan, pemesanan bahan makanan biasanya dilakukan pada siang hari untuk kebutuhan penyajian makanan pada hari berikutnya. Pihaknya juga memastikan masa kedaluwarsa bahan makanan masih dalam kondisi aman untuk digunakan.
Menurutnya, selama ini pihak penyedia berupaya menjaga kualitas makanan yang diberikan kepada siswa. Namun terkait kejadian tersebut, pihaknya masih melakukan penelusuran untuk mengetahui penyebab pasti.
“Selama ini kami berusaha menjamin makanan yang diberikan aman untuk dikonsumsi. Jika ada kejadian yang tidak diharapkan, tentu akan kami evaluasi,” katanya.
Ia menambahkan, pihak penyedia juga telah menyiapkan langkah penanganan apabila terjadi keluhan kesehatan dari siswa dengan bekerja sama dengan fasilitas kesehatan yang tersedia.
“Kami akan terus melakukan evaluasi agar proses penyediaan makanan bagi siswa dapat berjalan lebih baik dan aman ke depannya,” pungkasnya. (Johan)








Tinggalkan Balasan