Sawah di Tiga Desa Tenggelam Akibat Double Track
Warning: Attempt to read property "post_excerpt" on null in /home/slawipos/tintabiru.com/wp-content/themes/liputanwp/template-parts/single/single-desktop.php on line 79
KAB. CIREBON, (FC).- Lahan pertanian di tiga desa di wilayah Kecamatan Pabedilan, Kabupaten Cirebon sudah dua minggu tenggelam akibat aliran Sungai Ciberu terhalang double track perlintasan kerata api (KA) yang hanya dipasang gorong-gorong.
Para petani terancam gagal tanam akibat benih yang siap tanam membusuk, mereka (petani,-red) meminta PT KAI membenahi jembatan tersebut agar aliran air lancar.
Salah seorang petani asal Desa Pabedilan Wetan, Suheri mengatakan kejadian tersebut sebenarnya selalu terulang disaat musim hujan tiba. Kondisi itu dirasakan semenjak dibangunnya double track oleh PT KAI.
“Sebelum dibangun double track, pembuangan air dari sawah ketika terjadi hujan lebat mengalir ke irigasi menuju Sungai Ciberu melintasi jembatan rel kereta api di Desa Pasurian Kecamatan Pabedilan,” kata Suheri.
Tetapi, ketika dibangun double track, jembatan yang tadinya lebar dibuat hanya menggunakan dua gorong-gorong sehingga aliran air Sungai Ciberu menjadi lambat.
“Kalau hujan sawah di Desa Kalibuntu, Desa Babakanlosari dan Desa Pasuruan terendam banjir. Karena aliran air Sungai Ciberu tersumbat di double track,” keluh Suheri kepada FC, Rabu (25/11).
Sebenarnya, ujar Suheri, kejadian tersebut berlangsung tiap tahun semenjak double track dibangun, namun kejadian terparah terjadi tahun ini.
“Kemungkinan dibarengi akibat pendangkalan di gorong-gorong sehingga aliran air jadi sangat terhambat,” katanya.
Meski baru musim penghujan awal dan hujan belum begitu sering namun kondisi banjir yang merendam sawah warga sudah lebih dari dua minggu dan tak kunjung surut. Padahal para petani telah menebar bibit padi, tetapi karena benih terendam hampir dua minggu membuat benih membusuk.
“Terpaksa para petani harus memulai awal menebar bibit, tanam padi jadi harus mundur sebulan kedepan, tapi tidak tahu apakah nanti akan terendam lagi atau tidak, bisa-bisa akan gagal tanam,”keluhnya.
Ia menilai pembuatan double track ada kesalahan, yang berdampak petani dirugikan karena gagal panen, baik padi, palawija maupun tanaman lainnya seperti bawang yang siap panen terendam hingga membusuk.
“Kejadian sekarang lebih parah entah berapa kerugian lagi yang akan ditanggung para petani yang ada di tiga desa di Kecamatan Pabedilan ini,” jelasnya.
Petani berharap, PT KAI turun ke lokasi dan melihat langsung akibat yang dialami para petani. “Kami minta jembatan double track dilebarkan biar aliran air Sungai Ciberu lancar,” pungkas Suheri. (Nawawi)








Tinggalkan Balasan