Satu Perawat RSD Gunung Jati Positif Covid-19
Warning: Attempt to read property "post_excerpt" on null in /home/slawipos/tintabiru.com/wp-content/themes/liputanwp/template-parts/single/single-desktop.php on line 79
KOTA CIREBON, (FC).- Walikota Cirebon , H Nashrudin Azis memberikan keterangan pers, Rabu (22/4) di Lobi Gedung Setda Kota Cirebon terkait beredarnya surat atau informasi yang menyebutkan adanya perawat di rumah sakit terpapar dan positif Covid-19.
Didampingi Dirut RSD Gunung Jati, dr Ismail Jamaludin dan Kadinkes dr Edi Sugiarto, Azis menjelaskan, dirinya menerima informasi langsung dari Pak Direktur RSDGJ pada Selasa malam kemarin. Bahwa ada seorang perawat yang positif Covid-19. Maka malam itu juga manajemen RS menutup sementara pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IDG).
Setelah itu digelar rapat dan dilakukan deteksi dan screening siapa saja yang telah kontak langsung dengan perawat yang positif itu. Namun persoalannya adalah permohonan pengajuan pemeriksaan perawat itu sudah 20 hari yang lalu. Baru Selasa kemarin mendapatkan hasilnya dan dinyatakan positif Covid-19.
“Selain perawat itu ada tiga orang pasien lagi yang hasil pemeriksaannya positif. Tiga orang tersebut sudah pulang karena kondisinya membaik. Padahal hasil pemeriksaannya baru datang kemarin. Ini karena lamanya hasil pemeriksaan,” jelasnya.
Pihak RS juga melakukan tracking dengan siapa perawat itu melakukan kontak langsung selama ini. Setelah didata, ternyata ada 61 orang, kemudian dilakukan screening terhadap 19 orang diantaranya.
Hasilnya 18 orang negatif, ada satu orang yang diduga positif Covid-19 dengan menggunakan CT-Scan. Tapi akan dilakukan pemeriksaan lanjutan guna memastikannya.
Terhadap 61 orang itu, lanjutnya, berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Orang Tanpa Gejala (OTG). Mereka diwajibkan melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing. Secara bertahap, mereka akan dipanggil RS untuk dilakukan tes CT-Scan.
“Kami menyadari, lamanya hasil pemeriksaan menjadi kendala bagi daerah untuk melakukan penanganan lanjutan, bila ada yang positif Covid-19. Pasalnya, banyak daerah juga yang mengirimkan sampel untuk diperiksa jadi tidak bisa hasilnya tidak bisa cepat diketahui. Kota Cirebon dan daerah lainnya belum memiliki alat yang cepat untuk mendeteksi Covid-19,” ungkapnya.
Pihaknya meminta kepada pemerintah pusat, untuk memberikan solusi ini. Agar daerah tidak kerepotan menghadapi hal yang demikian. Khususnya untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19.
Namun pihaknya tidak akan menunggu pasrah begitu saja. Dalam program realokasi anggaran APBD, akan melakukan pengadaan pengetesan PCR. Dengan tentunya meminta panduan pelaksanaannya dari pemerintah pusat.
Perawat terpapar dari pasien
Walikota juga menuturkan, perawat itu terpapar Covid-19 dari pasien yang berstatus PDP yang kemudian dirujuk ke RSU Waled. Belakangan pasien itu dinyatakan positif dan berimplikasi pada perawat yang merawatnya di RSDGJ.
“Sebelumnya pasien itu pernah marah-marah karena merasa tidak puas pada fasilitas dan pelayanan di rumah sakit terutama ruang isolasi. Pasien juga sempat membuka maskernya. Dan kebetulan perawat itu terpapar dari pasien tersebut karena kontak langsung,” tuturnya.
Padahal kata Azis, dalam situasi seperti sekarang ini, diharapkan kepada semua pihak untuk dimengerti. Pemerintah sedang melakukan penanganan Covid-19 pada kondisi yang sulit. Sehingga bila ada kekurangan harap bisa dipahami.
Sedangkan tiga orang yang positif lainnya, terpapar atau tertular dari luar Kota Cirebon. Dua orang merupakan warga Kota Cirebon yang bekerja di luar kota dan seorang lagi dari Kabupaten Cirebon juga demikian.
Sementara itu Direktur Utama RSD Gunung Jati, Ismail Jamaludin, menjelaskan jika layanan di IGD RSDGJ sejak pukul 11.00 WIB tadi sudah kembali normal. Sebelumnya pihak RS melakukan screening dan sterilisasi.
Sedangkan perawat yang dinyatakan positif Covid-19 saat ini tengah menjalani isolasi di RSD Gunung Jati. Saat melakukan pelayanan kepada pasien, tenaga medis di RSD Gunung Jati juga dilengkapi dengan Alat Pelindung Diri (APD).
“Untuk kondisi biasa memakai APD level 2, sedangkan bila ternyata ada gejala Covid-19 memakai APD level 3,” tandasnya. (gus)








Tinggalkan Balasan