KUNINGAN, (FC).- Kematian massal ikan dewa di kolam Cigugur mendorong Pemerintah Kabupaten Kuningan bergerak melakukan kajian teknis terhadap sistem aliran air di kawasan tersebut.

Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kuningan menyebut hasil penelusuran awal mengarah pada persoalan kualitas air dan sirkulasi yang terganggu.

Kepala Dinas PUTR Kabupaten Kuningan, Putu Bagiasna, mengatakan pihaknya telah melakukan peninjauan lapangan serta rapat koordinasi terbatas untuk mengidentifikasi penyebab kematian ikan dewa yang belakangan terus bertambah.

“Beberapa ikan yang mati salah satunya disebabkan oleh berkurangnya ketersediaan oksigen dan air bersih di kolam,” ujar Putu, kala ditemui dilokasi, Rabu (4/2).

Ia menjelaskan, dari sisi teknis ditemukan adanya saluran mata air di bagian barat kolam yang telah lama tertutup. Kondisi tersebut diduga memengaruhi sirkulasi air yang selama ini menopang keseimbangan ekosistem kolam.

Menurut Putu, keberadaan saluran tersebut akan menjadi fokus evaluasi, termasuk kemungkinan pembukaan kembali jika dinilai menghambat aliran air.

Selain persoalan sirkulasi kolam, PUTR juga menyoroti kompleksitas pemanfaatan Mata Air Cigugur yang digunakan untuk berbagai kebutuhan.

Sumber air tersebut selama ini tidak hanya menopang kolam wisata, tetapi juga digunakan untuk irigasi pertanian, kebutuhan masyarakat, serta layanan air minum melalui PDAM Tirta Kamuning.

Putu menyebut PDAM Tirta Kamuning memiliki izin pengambilan air sekitar 50 liter per detik, sedangkan total debit Mata Air Cigugur diperkirakan hampir mencapai 100 liter per detik.

“Pembagian air harus dikelola secara tertib dan proporsional agar seluruh kebutuhan dapat terpenuhi tanpa mengganggu keseimbangan lingkungan,” katanya.

Sebelumnya, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Cigugur menilai kematian ikan dewa dipicu gangguan ekosistem kolam akibat minimnya aliran air, termasuk dampak penutupan sumur alami dan pendangkalan kolam.

PUTR memastikan seluruh masukan masyarakat akan menjadi bagian dari evaluasi teknis yang sedang dilakukan, sekaligus sebagai upaya menjaga kelestarian ikan dewa yang menjadi simbol budaya dan daya tarik wisata Cigugur. (Angga)