KAB.CIREBON, (FC).- Gagasan penguatan ekonomi biru dan kolaborasi lintas sektor akan menjadi salah satu isu utama yang dibawa Rokhmin Dahuri dalam forum konferensi internasional perikanan dan kelautan di Surabaya.

Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) tersebut dijadwalkan menjadi Keynote Speaker pada 9th International Conference on Fisheries and Marine (INCOFIMS) yang digelar bersamaan dengan 7th International Conference on Biotechnology and Food Science (INCOBIFS), 2-3 September 2026 di Airlangga Sharia & Entrepreneurship Education (ASEEC) Tower, Surabaya.

Konferensi internasional itu mengusung tema “Collaborative Penta Helix (ABGSM) in Sustaining Marine and Fisheries for Good Health and Well-being.” Forum tersebut mempertemukan akademisi, pelaku usaha, pemerintah, masyarakat dan media untuk membahas masa depan sektor kelautan, perikanan dan pangan.

Saat ditemui di Gebang, Kabupaten Cirebon, Senin (31/8) malam, Rokhmin mengatakan sektor kelautan dan perikanan Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi nasional. Namun, potensi tersebut membutuhkan tata kelola berkelanjutan dan kerja sama lintas sektor.

“Kolaborasi lintas sektor merupakan kunci utama dalam mewujudkan pembangunan kelautan dan perikanan yang maju, berkelanjutan, dan mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” ujar Rokhmin.

Menurutnya, model Pentahelix ABGSM menjadi penting karena persoalan kelautan tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah atau satu institusi.

Akademisi berperan menghasilkan riset dan inovasi, pemerintah menyiapkan regulasi, dunia usaha mendorong investasi dan hilirisasi, masyarakat menjadi pelaku utama pemanfaatan sumber daya, sedangkan media berperan membangun kesadaran publik sekaligus mengawal pembangunan.

“Tidak ada satu institusi pun yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan kelautan dan perikanan sendirian. Semua harus bergerak bersama sesuai peran dan kompetensinya masing-masing,” tegasnya.

Rokhmin menilai Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan ekonomi biru. Potensi tersebut mencakup perikanan tangkap, akuakultur, industri pengolahan hasil laut, bioteknologi, energi kelautan hingga jasa lingkungan.

Namun, pemanfaatan potensi tersebut harus mengedepankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian ekosistem dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Potensi kelautan Indonesia sangat besar, tetapi harus dikelola secara bijaksana. Jangan sampai kita mengejar pertumbuhan ekonomi dengan mengorbankan kelestarian sumber daya,” katanya.

Ia menegaskan, ekonomi biru bukan sekadar mengejar keuntungan dari sumber daya laut, tetapi menciptakan nilai tambah sekaligus memastikan ekosistem tetap sehat.

“Ekonomi biru harus mampu menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus menjaga kesehatan ekosistem laut. Itulah esensi pembangunan kelautan yang berkelanjutan,” jelasnya.

Selain ekonomi biru, konferensi tersebut akan membahas sejumlah isu strategis, seperti pengembangan akuakultur, kesehatan ikan, pakan dan nutrisi, pengelolaan sumber daya perairan, lingkungan laut, sosial ekonomi masyarakat perikanan, teknologi pengolahan hasil laut hingga bioteknologi dan keamanan pangan.

Menurut Rokhmin, riset dan inovasi harus diarahkan untuk menghasilkan solusi yang dapat diterapkan langsung dalam pembangunan.

“Riset dan inovasi tidak boleh berhenti di laboratorium. Hasilnya harus dapat diterapkan untuk meningkatkan produksi, menjaga lingkungan, dan memperkuat ketahanan pangan,” ujarnya.

Ia berharap forum internasional tersebut tidak berhenti sebagai ruang pertukaran gagasan, tetapi menghasilkan kerja sama dan rekomendasi yang dapat diterapkan dalam pembangunan sektor kelautan dan perikanan.

Bagi Indonesia, menurutnya, penguatan sektor kelautan menjadi semakin penting di tengah tantangan perubahan iklim, kerusakan lingkungan, tekanan terhadap sumber daya perikanan dan kebutuhan pangan dunia yang terus meningkat.

“Indonesia adalah negara maritim dengan kekayaan laut yang luar biasa. Jika dikelola secara benar, sektor kelautan dapat menjadi salah satu pilar utama kesejahteraan dan kemajuan bangsa,” pungkasnya. (Nawawi)