RESESI DAN VAKSINASI
Warning: Attempt to read property "post_excerpt" on null in /home/slawipos/tintabiru.com/wp-content/themes/liputanwp/template-parts/single/single-desktop.php on line 79
Oleh: Sandi Wiranata
Pemerhati Ekonomi Politik Tinggal di Cirebon
Dahsyat nya gelombang pandemi covid 19 berdampak pada pelemahan ekonomi di hampir semua negara di dunia dan tak terkecuali di Indonesia, setelah mengalami minus 5,32 persen pada kuartal II dan dilanjutkan minus 3,49 persen pada kuartal III sehingga sah negara kita mengalami resesi.
Apa itu resesi ? melansir dari forbes,1 September 2020 resesi adalah penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan, berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Sedangkan beberapa ahli menyatakan bahwa resesi terjadi ketika pertumbuhan ekonomi suatu negara produk domestik brutonya (PDB) negatif, meningkatnya angka pengangguran, penjualan ritel mengalami penurunan, sera penyusutan ukuran pendapatan dan manufaktur dalam jangka waktu yang lama. Secara teoritis suatu negara di katakan resesi apabila salah satu indikatornya yaituh mengalami penurunan pertumbuhan ekonominya minus dua kuartal berturut-turut. Lembaga penelitian di Amerika Serikat National Bureau of Economic Research (NBER) mendefinisikan resesi sebagai indikasi turunnya daya beli masyarakat secara umum dan naiknya angka pengangguran.
Banyak faktor yang menyebabkan suatu negara mengalami resesi salah satunya adalah akibat guncangan ekonomi yang tiba-tiba seperti saat ini dimana covid 19 mewabah dengan cepat di hampir seluruh negara di dunia. Resesi akibat wabah suatu penyakit biasanya ber banding lurus lamanya waktu saat mengalami wabah penyakit sampe bisa menanggulangi wabah tersebut, jadi dapat dikatakan bahwa resesi akibat pandemi akan cepat dapat di kendalikan selama penanggulangan pandemi dapat teratasi dengan baik karena apabila tidak teratasi dalam waktu yang lama bisa saja akan menimbulkan suatu depresi ekonomi bagi suatu negara.
Berbagai isu politik saat ini baik pilkada dan banyaknya pejabat yang menduduki posisi politis di tangkap KPK karena korupsi mampu mengalihkan kondisi resesi saat ini,padahal sudah banyak PHK dan pengurangan karyawan di berbagai perusahaan,menurunnya daya beli masyarakat terlihat dari berbagai sektor produksi yang makin menurun, di berlakukannya pebatasan waktu operasional dalam masa adaptasi kebiasaan baru maupun di berlakukannya pembatasan sosial berskala besar di wilayah tertentu membuat semakin sulitnya pelaku usaha dalam beraktivitas, dampaknya mengalami penurunan omset hingga menutup usahanya karena tidak mampu menutupi biaya operasional usaha.
Upaya pemerintah dalam mengendalikan ekonomi supaya terhindar dari resesi tidak mampu menahannya, walaupun berbagai program bantuan di kucurkan ke masyarakat seperti adanya bantuan paket sembako, bantuan tunai, insentif tenaga medis, bahkan restrukturisasi kredit yang di harapkan mampu menopang pelaku usaha supaya tetap jalan tidak mampu menahan gelombang resesi. Program yang baik dan di harapkan dapat meringankan kondisi ekonomi masyarakat tanpa di lakukan kontrol yang baik justru menguntungkan pihak tertentu sehingga tidak heran ketika resesi tidak teratasi dalam waktu yang lama akan muncul ketimpangan dan dampak sosial yang memperberat situasi dalam masa resesi. Program paket sembako yang di korupsi, restrukturisasi kredit hingga penundaan pembayaran ternyata di masyarakat tidak berjalan seindah anjuran pemerintah yang sudah dibuat karena berbagai cabang masih membuat penyesuaian peraturan tersebut sehingga berbagai keluhan masyarakat akan adanya program tersebut jauh panggang dari api. Bagi dunia perbankan resesi dibuktikan dengan meningkatnya angka kredit macet atau non performing loan ( NPL ).
Sektor investasi pun mengalami dampak yang berat saat resesi, baik saham ataupun obligasi tentu para pialang lebih berhati-hati dalam situasi yang tidak menentu ini,begitu juga sektor properti terutama untuk para pengembang baik real estate ataupun perumahan bersubsidi mengalami kesulitan penjualan dalam kondisi resesi, berbagai sendi perekonomian mampu di rusak akibat pandemi covid 19 dalam sekejap sehingga masyarakat berharap agar pandemi yang menyebabkan resesi ini segera dapat teratasi dan mampu di kendalikan.
Seperti gayung bersambut, harapan untuk bisa segera terbebas dari pandemi dilakukan oleh pemerintah dengan di datangkan nya vaksin dari tiongkok dimana virus tersebut awal muncul dan menjadi pandemi. Dengan keterbatasan jumlah yang ada di harapkan pemerintah mampu memilah dan mengutamakan yang paling rentan tertular dan menularkan sehingga mampu menekan penyebaran virus tersebut.
Vaksinasi adalah proses pemberian vaksin melalui di suntikan maupun di teteskan ke dalam mulut untuk meningkatkan produksi antibodi guna menangkal penyakit tertentu, umumnya mengandung virus yang telah di lemahkan sehingga wajar ketika pembelian vaksin tersebut di beli dari negara yang awal mengalami wabah dan mampu mengatasi nya dengan baik.
Dalam berbagai kesempatan seperti yang sering kita saksikan di televisi Presiden Jokowi mengatakan bahwa kesehatan masyarakat di utamakan karena memahami betul bahwa menjaga kesehatan adalah penangkal utama dalam melawan virus corona dan mengakhiri wabah pandemi merupakan solusi utama mengatasi krisis yang disebabkan oleh wabah virus saat ini.
Resesi yang di akibatkan oleh pandemi yang menurut para ahli bisa diatasi dimana kita mampu mengatasi pandemi tersebut tentu tidak serta merta seperti membalikan telapak tangan dalam memulihkan perekonomian yang terpuruk. Butuh waktu yang serius dalam me recovery perekonomian agar kembali normal.
Menurut Szlezak, Reeves, dan Swartz (2020) krisis ekonomi sebagai dampak dari pandemi Covid 19 akan menghasilkan pola pemulihan ekonomi berbeda antar negara. Umumnya pola pemulihan ekonomi tersebut terbagi empat. Pertama, bentuk V ( V shape ) dimana pandemi menyebabkan perekonomian anjlok yang di tandai dengan pertumbuhan ekonomi menurun tajam dan pengangguran melonjak tapi dalam waktu singkat bisa pulih kembali pada posisi sebelum krisis. Sedangkan kedua, bentuk U dimana pertumbuhan turun drastis dan pengangguran meningkat di perlukan waktu yang lama untuk pulih, kesenjangan ekonomi lama dan baru tetap besar ini menunjukan kerusakan pada suplai ekonomi, output yang hilang besar membutuhkan jauh lebih panjang untuk kembali pada kondisi sebelum krisis, kemudian ketiga adalah bentuk L merupakan bentuk terburuk dimana bukan hanya pertumbuhan ekonomi negara yang tidak pernah pulih jalur output sebelumnya tetapi juga tingkat pertumbuhannya menurun dan pola L ini merupakan bentuk paling merusak karena jarak antara jalur lama dan baru dari pertumbuhan semakin lebar dengan output yang hilang makin terus berlanjut ini berarti krisis telah meninggalkan kerusakan struktur permanen pada sisi suplai. Dan keempat bentuk W atau perulangan pola kondisi ini terjadi karena adanya out breakgelombang kedua dan seterusnya, bentuk ini tergolong bentuk buruk dari proses pemulihan ekonomi suatu negara.
Pemerintahan efektif atau effective government, di dukung dengan kapasitas kepakaran sumber daya manusia kesehatan-epidemiologi, virulogi, dan saintis lainnya serta yang tak kalah penting adalah tindakan cepat ( Zakaria, 2020 ) menjadi kunci keberhasilan negara memutus mata rantai penyebaran wabah Covid 19. Selanjutnya kebijakan yang telah di buat oleh pemerintah baik itu PSBB, AKB dan terakhir Vaksinasi harus di dukung oleh semangat kolektif masyarakat dalam menjalankan anjuran pemerintah guna mengatasi pandemi ini yang berarti berusaha menanggulangi krisis ekonomi pula secara langsung.
Semoga dengan sudah di datangkannya vaksin maka akan segera mengatasi wabah covid 19 ini sehingga perekonomian bisa segera pulih dan terbebas dari krisis ekonomi yang menimpa negara kita.








Tinggalkan Balasan