Ratusan Nelayan di Tawangsari Pulang Kampung, Ada Apa?
KAB.CIREBON, (FC).- Ratusan perahu nelayan yang selama ini merantau ke luar wilayah Kabupaten Cirebon beramai-ramai pulang kampung untuk menggelar acara nadran yang setiap tahun rutin mereka laksanakan.
Kuwu Tawangsari, Rojiki kepada FC mengungkapkan, warga Desa Tawangsari selain bermata pencaharian sebagai petani, sebagian lainnya adalah menjadi nelayan. Di desanya ini sedikitnya ada sekitar 200an perahu yang ketika melaut lebih memilih ke luar laut Losari.
“Mereka lebih memilih melaut seperti di daerah Muara Angke, Subang, Lampung, Tegal. Mereka ada yang berbulan-bulan di daerah rantau, ada juga yang setiap minggu pulang, bahkan terkadang mereka menyandarkan perahunya di daerah rantau dan mereka pulang kampung menggunakan bus umum,” kata Kuwu Rojiki, Minggu (27/7).
Setiap tahun para nelayan di Desa Tawangsari selalu menggelar nadran atau syukuran laut, mereka yang merantau biasanya pulang bersama perahu-perahu mereka untuk mengikuti acara nadran dan mencari berkah dalam acara nadran tersebut dengan memandikan perahu mereka saat acara larung saji.
“Setiap acara nadran para warga yang bermata pencaharian nelayan itu mereka pulang kampung untuk mengikuti acara nadran ini,” terangnya.
Lanjut disampaikan Kuwu Rojiki, pelaksanaan nadran sendiri digelar setiap tahun antara bulan Juli-Agustus, yang biasanya dipilih tidak jauh dengan acara sedekah bumi yang digelar para petani di desanya, sehingga momentum acara sedekah bumi dan acara nadran selalu beriringan.
Hal itu sudah menjadi tradisi masyarakatnya, karena acara nadran bukan saja diikuti para nelayan tapi juga para petani serta masyarakat umum lainnya, begitupun sebaliknya ketika acara sedekah bumi.
“Nadran ini acara tradisi, yang intinya ucapan syukur dan harapan para nelayan agar selalu diberikan keselamatan dan keberkahan selama mereka melaut,” ungkap Rojiki.
Untuk diketahui, kegiatan nadran di Desa Tawangsari ini akan diisi berbagai acara dimulai tahlil dan doa bersama seluruh nelayan dan masyarakat Desa Tawangsari, dilanjut acara larung sesaji di laut kemudian ditutup dengan acara pagelaran kesenian daerah seperti pertunjukan sandiwara. (Nawawi)








Tinggalkan Balasan