KAB.CIREBON, (FC).- Slamet (55) warga Blok Cemara Dusun 05, Desa Gebang Kulon, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon akhirnya bisa bernafas lega.

Pasalnya, lebih dari 30 tahun rumahnya yang dihuni tak memiliki listrik, namun kini mendapat perhatian dari Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) melalui program Jabar Caang 2025.

Kepada FC, Senin (8/12), Slamet menuturkan, dirinya yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak, selama ini hanya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk keluarganya makan dan minum, itupun sebenarnya masih jauh dari kata cukup.

Terkadang, kata Slamet untuk mendapatkan uang ketika menarik beca lagi sepi, Slamet mencoba menjadi pekerja serabutan, yang penting asal bisa mendapatkan uang demi kebutuhan hidup rumah tangganya.

“Kalau harus memikirkan memperbaiki rumah, apalagi memasang listrik sendiri, sangat tidak mungkin, untuk kebutuhan sehari-hari saja masih repot,” ungkapnya.

Lanjut Slamet menuturkan, semenjak berumah tangga, dirinya membangun rumah gubug di atas tanah milik orang tuanya sekitar 35 tahun silam.

Sejak itu dirinya hanya mengandalkan penerangan lampu tradisional, dan beberapa tahun kemudian ada tetangga yang baik hati untuk menyalurkan listrik ke rumahnya, itupun sebatas hanya untuk lampu-lampu saja.

Kondisi tersebut dijalani Slamet dan keluarga selama puluhan tahun karena ingin memiliki listrik sendiri tak kunjung bisa terwujud karena himpitan kebutuhan ekonomi, apapun yang dijalani beruntung keluarganya menerima hidup dengan kondisi tersebut.

“Alhamdulillah setelah lebih dari 30 tahun, akhirnya mendapatkan bantuan listrik gratis, dari pemerintah. Terima kasih Bapak KDM, Bupati dan Bapak Kuwu,” ungkapnya.

Lanjut disampaikan Slamet, kepedulian pemerintah, memang datang bukan saat ini saja dengan memberikan bantuan listrik gratis, di tahun 2015 silam, dirinya pernah tersentuh bantuan program rutilahu.

Sehingga yang dulu rumahnya geribig menjadi rumah tembok, namun hanya bagian tengah dan depan, sementara ruang belakang untuk dapur masih menggunakan geribig dan tiang kayu.

Kejadian hujan angin beberapa hari lalu telah menggeser tiang penyangga atap dapur, sehingga kondisi dindingnya miring, dirinya ingin sekali mengganti tiang-tiang penyangga tersebut, namun belum memiliki dana yang cukup, kondisi tersebut membuat dirinya dan keluarga selalu was-was bila tiba-tiba ruang dapurnya ambruk.

“Untuk sementara saya pasang penyangga tiang, smpai nanti punya anggaran yang cukup untuk mengganti tiang – tiang atap dapur ini,” pungkas Slamet. (Nawawi)