Puluhan Balita di Indramayu Menderita Stunting
Warning: Attempt to read property "post_excerpt" on null in /home/slawipos/tintabiru.com/wp-content/themes/liputanwp/template-parts/single/single-desktop.php on line 79
INDRAMAYU, (FC).- Angka Kasus Stunting pada balita di Kabupaten Indramayu masih tinggi. Tingginya kasus stunting ini menjadi salah satu daerah sorotan utama penanganan stunting di Jawa Barat.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Deden Bonni Koswara, menyebutkan, jumlah total balita di Kabupaten Indramayu ada 125 ribu.
Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, angka stunting di Kabupaten Indramayu mencapai 33,19 persen. Itu berarti, lanjut Deden, dari jumlah total itu, balita yang mengalami stunting ada sekitar 41 ribu balita.
‘’Ini tergolong tinggi,kita di Jabar merupakan fokus utama untuk penanganan stunting, ” ujar Deden, saat ditemui usai Seminar Nasional Cegah Stunting Menuju Generasi Bermartabat, di Pendopo Indramayu, Selasa (13/10).
Adapun kasus stunting tertinggi di Kabupaten Indramayu terjadi di Kecamatan Gabuswetan, Kandanghaur dan Kertasemaya.
Deden menjelaskan, tingginya kasus stunting salah satunya akibat pernikahan dini, terutama pada remaja putri.
Hal itu akhirnya berdampak pada ketidaksiapan calon ibu saat menjalani kehamilan maupun saat merawat anaknya pada 1.000 hari pertama kehidupan.
Selain itu, lanjut Deden, ibu yang berangkat kerja ke luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI), juga turut mempengaruhi kondisi anak balita yang ditinggalkannya.
Menurutnya, ketiadaan ibu yang pergi menjadi TKI membuat pemberian makanan pada anak balitanya menjadi kurang baik.
Masih disampaikan Deden Bonni Koswara, berdasarkan data terbaru, menurut e-PPGBM tahun 2020, angka stunting di Kabupaten Indramayu diketahui mencapai 10,2 persen.
Hanya saja, Pemkab Indramayu masih menunggu riset lebih lanjut dari Riskesdas.
“Terakhir data e-PPGBM terbaru, anak yang menderita stunting di Kabupaten Indramayu mencapai 10,2 persen, tapi angka itu harus diakui juga oleh Riskesdas, kita masih menunggu persentasenya,” ujar dia.
Masih disampaikan, Deden Bonni Koswara, perlu diakui juga, di Kabupaten Indramayu terjadi penurunan timbangan balita menjadi 15,7 persen.
Oleh karenanya, Pemkab Indramayu dalam waktu dekat bakal melakukan percepatan penanganan stunting melalui program Gerakan Penurunan Stunting Indramayu Secara Terpadu atau yang disingkat Gesit.
Program tersebut menjadi trobosan baru, di dalamnya akan melibatkan semua unsur organisasi perangkat daerah (OPD) akan dilibatkan, mulai dari tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten secara terpadu.
Menurutnya, seluruh anggaran, perencanaan dan kebijakan stunting yang ada di seluruh OPD akan menjadi satu. Selain itu, lanjut Deden, akan dibuat tim Gesit mulai tingkat desa, kecamatan sampai kabupaten.
Untuk tim Gesit di desa dan kecamatan, ada lima unsur yang dilibatkan. Terdiri dari unsur kesehatan, kader pembangunan manusia, TP PKK, pendamping ProgramKeluarga Harapan (PKH) dan Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB).
“Nanti akan ada 5 pilar di desa dan kecamatan yang akan jadi ujung tombak pengentasan stunting,” Ujarnya. (Agus)








Tinggalkan Balasan