KUNINGAN, (FC).- Pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kabupaten Kuningan masih dinilai longgar, sehingga penyebaran virus corona atau Covid-19 masih bisa terus terjadi.

Seperti disampaikan pengamat Kuningan H. Dedi Rosadi, bahwa pemberlakukan PSBB di Kuningan masih kurang efektif karena masih longgar. Hal itu menurutnya bisa dilihat dari hiruk pikuk masyarakat yang tidak terkendali, termasuk di pusat-pusat perbelanjaan.

“Harusnya pembatasan pengunjung diberlakukan di pusat-pusat perbelanjaan maupun pasar. Kalau seperti sekarang sama saja tidak ada gunanya diberlakukan PSBB, tapi masyarakat masih berjubel di tempat-tempat keramaian,” jelas Dedi, Kamis (14/5).

Meski diberlakukannya pembatasan jam operasional yaitu dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore, menurut Dedi penyebaran tetap bisa terjadi, walaupun malam hari dilakukan penutupan ruas-ruas jalan.

“Apalagi sekarang menjelang lebaran, banyak masyarakat berbondong-bondong untuk belanja,” ujar Dedi.

Menurut Dedi, perlu pemikiran lebih lanjut dari pemangku kebijakan dalam melakukan pengawasan semasa pandemi Covid-19 ini, mengingat masih banyak masyarakat yang belum melaksanakan protokol kesehatan yang ditetapkan.

“Saya khawatir, kalau masih banyak yang tidak pakai masker, enggan cuci tangan (hidup bersih) dan jaga jarak, justru akan terus bertambah kasus Covid-19 di Kuningan,” jelas Dedi.

Jika perlu, lanjut Dedi, di sekitar kota atau lampu merah dilakukan pemeriksaan kepada masyarakat yang tidak melaksanakan protokol kesehatan, maupun aturan yang telah ditetapkan semasa PSBB kali ini.

“Kalau harus bersumpah, jujur kita semua takut terhadap wabah ini. Tidak tahu sampai kapan berkahir,” kata Dedi.

Kemudian, Dedi juga menyinggung bantuan yang diberikan oleh pemerintah. Meskipun sangat berarti, tapi pelaksanaannya terkesan lamban. Sehingga masih banyak masyarakat yang menjerit karena perekonomian yang terhimpit dikala pandemi ini.

“Kenapa sampai terlambat, padahal masyarakat menunggu. Jangan sampai euforia bantuan tidak mempengaruhi masyarakat yang tak kunjung tiba, sehingga terjadi kerusuhan sosial. Coba pemerintah jangan sampai tutup mata dan telinga,” jelas Dedi.

Dari itu semua, Dedi berharap masyarakat tetap jangan menyalahkan siapapun, mengingat pemerintah saat ini sedang bekerja dan memiliki niatan dan tujuan yang baik, harus bisa memaklumi hambatan yang terjadi.

“Tapi untuk pemangku kebijakan juga harus amanah, pepejeuh, sekarang ini bulan ramadhan, Allah melihat tingkah laku kita, maka apa yang diperjuangkan untuk rakyat harus tercapai,” kata Dedi.

Dedi juga meminta kepada petugas medis yang bekerja agar selalu waspada, dan mengingat keluarga yang ada di rumah.

Selain itu pemerintah juga harus memperhatikan para petugas medis, mengingat anggaran sudah jelas adanya, jangan sampai fasilitas seperti APD kekurangan.

“Petugas medis sebagai garda terakhir penanganan Covid-19, harus tetap diperhatikan keselamatannya, jangan sampai pos anggaran yang ditetapkan penanganan covid tidak tepat sasaran,” kata Dedi. (Bambang)