Program BSPS Hidupkan Tradisi Gotong Royong
Warning: Attempt to read property "post_excerpt" on null in /home/slawipos/tintabiru.com/wp-content/themes/liputanwp/template-parts/single/single-desktop.php on line 79
KAB. CIREBON, (FC).- Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau Rumah Layak Huni (Rulahu) menjadi dambaan seluruh masyarakat. Tak terkecuali warga Desa Sumurkondang, Kecamatan Karangwareng dan Desa Ciuyah, Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon.
Salah satu syarat penerima program adalah memiliki dana swadya maka alternatifnya adalah dengan menggiatkan gotong royong masyarakat.
Kuwu Desa Sumurkondang, Heriyanto mengungkapkan, salah satu persyaratan warga penerima program BSPS yakni memiliki swadaya dana untuk kebutuhan pembangunan rumahnya, bisa dengan menabung material bisa juga menabung untuk biaya tukang, bagi masyarakat penerima program yang belum memiliki persiapan dana swadaya dirinya mengupayakan akan menggerakkan masyarakat untuk gotong royong.
“Untuk tenaga kerja, bisa melalui gotong royong. Sedangkan untuk pembelian material, akan dimusyawarahkan bersama warga,” ungkapnya kepada “FC”, Kamis (3/9).
Kuwu dua periode ini menjelaskan, banyak kendala dalam realisasikan program Rutilahu. Diantaranya, tanah bukan milik sendiri dan dana swadaya.
“Untuk tanah, akan diusahakan pihak desa. Dana swadaya, akan menggerakan warga untuk gotong royong dan swadaya warga sekitar,” jelasnya.
<--nextpage-->Sementara itu, menurut salah seorang warga penerima program BSPS di Dusun 02 Desa Sumurkondang, Timu, mengungkapkan, program Rutilahu sangat dinantikan masyarakat. Namun, adanya dana swadaya sangat memberatkan.
“Makan saja kesulitan, apalagi memperbaiki rumah. Memang, program Rutilahu sangat membantu masyarakat. Akan tetapi dengan adanya dana swadaya, saya sangat keberatan,” keluhnya.
Dirinya mengharapkan, program Rutilahu tanpa ada dana swadaya. Mengingat, tak ada uang untuk dana tersebut.
“Semoga tak ada lagi dana swadaya dalam program Rutilahu,” harapnya
Serupa yang terjadi di Desa Ciuyah, Kecamatan Waled. Ratusan Rutilahu yang sudah puluhan tahun, kondisi rumah memprihatinkan. Namun, tak kunjung diperbaiki dari pemerintah.
Menurut warga desa setempat, Karto, sudah puluhan tahun belum mendapatkan program Rutilahu. “Untuk makan saja susah, apalagi perbaiki rumah. Puncaknya sekitar Idul Adha lalu, atap ambruk diterjang angin dan Alhamdulillah ada perbaikan dari pihak desa,” ujarnya.
Sementara itu, Kuwu Desa Ciuyah, Wasminta mengungkapkan, sekitar 150 rumah yang sudah diajukan ke pihak pihak terkait, namun hingga saat ini tak kunjung ada yang direalisasi.
<--nextpage-->“Setiap tahun diajukan, namun belum ada yang realisasi. Sehingga, pihak desa selalu ditanyakan masyarakat yang didata,” ungkapnya.
Wasminta menceritakan, sudah beberapa kali rumah yang butuh Rutilahu difoto dan dilampirkan saat pengajuan. Tapi, belum ada realisasi.
“Memang, program Rutilahu bisa dapat atau tidak. Namun seyogyanya setiap ajuan, direalisasi. Misalnya, yang diajukan 150 unit, ya di-acc setengahnya dan tahun berikutnya, dapat lagi. Agar, tidak ada lagi Rutilahu di desa ini,” ceritanya.
Masih dikatakan Wasminta, setiap pengajuan program Rutilahu selalu memperbaharui foto rumah penerima dan ketika ke rumah warga, mendapatkan pertanyaan yang sama.
“Difotoin saja, kapan dibenerin. Ya namanya masyarakat, mungkin terkesan kurang paham mengenai program. Bisa dapat, bisa juga tidak,” paparnya.
Dirinya mengharapkan, program Rutilahu realisasi tahun depan. Mengingat, masih banyaknya Rutilahu di desa ini.
“Kami tetap berupaya untuk mendapatkan program Rutilahu dari program apapun, tak terkecuali dari donatur,” harap Wasminta. (Nawawi)








Tinggalkan Balasan