KAB. CIREBON, (FC).- Polresta Cirebon melakukan respon cepat menangani tanggul jebol yang dikhawatirkan menjadi penyebab banjir rob di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Jumat (11/8). Bahkan, Polresta Cirebon pun langsung menyerahkan bantuan 10 ribu karung sebagai penanganan sementara tanggul jebol tersebut.

Selain itu, Polresta Cirebon bersama sejumlah instansi terkait dan masyarakat juga melaksanakan kerja bakti untuk membangun tanggul sementara sebagai bentuk respon cepat terhadap keluhan masyarakat Desa Rawaurip mengenai sering datangnya air rob akibat tanggul jebol.

Kapolresta Cirebon, Kombes Pol Arif Budiman mengatakan, kegiatan kerja bakti tersebut melibatkan 250 personel gabungan dari unsur Kodim, Lanal, Dit Polairuda Jabar, Sat Samapta, Sat Polair, gabungan Polsek, BPBD, Tagana, dan masyarakat Desa Rawaurip.

“Kegiatan ini hanya sebagai penanganan awal untuk merespons keluhan masyarakat sehingga tidak berhenti sampai di sini. Kami sudah berkoordinasi dengan Pemkab Cirebon dan akan menurunkan alat berat untuk mempercepat pembuatan tanggul,” ujar Arif Budiman.

Ia mengatakan, Pemkab Cirebon juga bakal mencarikan solusi jangka panjang untuk pembuatan tanggul permanen. Pasalnya, banjir rob akibat tanggul jebol tersebut mengancam penurunan produksi garam di Desa Rawaurip yang sebelumnya mencapai 250 ribu ton per tahun menjadi 50 ribu ton per tahun.

Selain itu, dari hasil koordinasi dengan Pemerintah Desa Rawaurip juga didapat informasi bahwa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI sempat mengalokasikan anggaran sebesar Rp19 miliar untuk pembangunan tanggul permanan di Desa Rawaurip, tetapi tidak diserap.

“Sehingga informasi tersebut akan ditindaklanjuti Pemkab Cirebon. Diharapkan, pembangunan tanggul yang kokoh ini mampu menahan air rob dan mengembalikan tingkat produksi garam di Desa Rawaurip menjadi 250 ribu ton per tahun, karena sekarang menurun akibat rob,” kata Arif Budiman.

Kuwu Rawaurip, Rochmannur mengungkapkan, akibat masuknya gelombang air laut ke areal produksi garam masyarakat menyebabkan menurunkan produksi garam, dari sebelumnya bisa mencapai 250 ribu ton per tahun, sekarang hanya dapat 50 ribu ton per tahun.

Oleh sebab itu, para petani garam mengalami kerugian tenaga dan materil atas kejadian banjir rob yang  melanda areal lahan garam yang sedang dalam proses panen.

“Saya berharap, pembangunan tanggul darurat ini, mampu menahan air rob dan dapat mengembalikan tingkat produksi garam di Desa Rawaurip menjadi 250 ribu ton per tahun,” harapnya.

Kuwu Rochmannur juga mengucapkan terimakasih atas gerak cepat TNI, Polri dan instansi terkait lainnya yang dapat melihat langsung lokasi jebolnya tanggul petani garam di desa Rawa Urip.

“Semoga dari kunjungan dan melihat langsung situasi dan kondisi areal lahan tambak garam, sehingga bisa secepatnya merealisasikan tanggul permanen bagi petani garam di desa Rawaurip,” tuturnya. (Nawawi)