PM-AAS Dorong Produktivitas Padi, Kadis Pertanian Cirebon Tinjau Langsung Penggunaan Alsintan
GEBANG, (FC).- Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Deny Nurcahya, meninjau langsung penerapan alat dan mesin pertanian (alsintan) manual dalam program PM-AAS (Pertanian Modern–Advanced Agricultural System) yang diterapkan Kelompok Tani Hoyong Makmur, Desa Kalimekar, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, Minggu (16/8).
Program tersebut merupakan pola budidaya pertanian modern dengan menggabungkan teknik tanam benih langsung, pengairan berselang, pengaturan populasi tanaman, serta pemanfaatan mekanisasi pertanian. Pola ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi budidaya sekaligus mendongkrak produktivitas padi.
“PM-AAS kita harapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus membuat proses tanam lebih efisien,” ujar Deny.
Dalam penerapannya, lahan terlebih dahulu diratakan dan dipersiapkan agar siap ditanami. Sekitar tiga hari sebelum tanam, lahan dapat disemprot herbisida untuk mengendalikan gulma sehingga tidak terjadi persaingan antara tanaman padi dan rumput dalam memperoleh unsur hara.
Pemupukan organik juga dapat dilakukan sebelum proses tanam apabila kondisi lahan membutuhkannya. Setelah lahan siap, penanaman dilakukan menggunakan alsintan manual dengan jarak keluarnya benih sekitar 3 sentimeter dan jarak tanam antarbari sekitar 25 sentimeter.
“Dengan pola ini, penggunaan benih lebih hemat, tetapi populasi tanaman bisa lebih banyak,” jelasnya.
Menurut Deny, kebutuhan benih dalam pola tersebut sekitar 70 kilogram per hektare, dengan potensi menghasilkan lebih dari satu juta rumpun atau tanaman padi dalam satu hektare. Setelah tanam, pengendalian gulma dilakukan secara terukur sesuai kondisi pertumbuhan tanaman.
Tahap berikutnya adalah pemeliharaan tanaman melalui pemupukan dan pengendalian gulma. Penggunaan sarana produksi pertanian dilakukan sesuai kebutuhan dan dosis yang dianjurkan agar pertumbuhan tanaman tetap optimal.
Deny menyebutkan, apabila penerapan PM-AAS berjalan sesuai target, produktivitas padi berpotensi mencapai hingga 10 ton gabah per hektare.
“Targetnya bisa mencapai sekitar 10 ton per hektare. Tentu hasil akhirnya tetap bergantung pada kondisi lahan dan pemeliharaan,” katanya.
Selain meningkatkan produktivitas, PM-AAS juga dinilai mampu menghemat tenaga kerja pada tahap penanaman. Siklus budidaya dari tanam hingga panen diproyeksikan sekitar 110 hari, sementara pola konvensional melalui persemaian dan pindah tanam memiliki tahapan berbeda yang dapat memengaruhi waktu dan tingkat stres tanaman.
Deny menjelaskan, salah satu keunggulan yang diharapkan dari pola PM-AAS adalah waktu panen yang dapat lebih cepat sekitar 10 hari dibandingkan pola tanam konvensional, sehingga masa budidaya menjadi lebih efisien.
“Efisiensi waktu dan tenaga menjadi salah satu keunggulan yang kita harapkan dari pola ini,” ungkap Deny.
Meski demikian, penerapan PM-AAS di Kabupaten Cirebon masih dalam tahap pengembangan dan belum terdapat lahan percontohan yang telah memasuki masa panen. Di Desa Jatirenggang, misalnya, tanaman baru berusia sekitar 16 hari, tetapi pertumbuhannya dinilai cukup baik, rapi dan lebat.
Sementara itu, penerapan program serupa di sejumlah daerah di luar Pulau Jawa dilaporkan telah memasuki masa panen dengan hasil lebih dari 10 ton per hektare. Capaian tersebut menjadi salah satu pertimbangan program PM-AAS terus diaplikasikan dan dikembangkan di daerah lain.
“Kita berharap hasil di Kabupaten Cirebon nantinya sesuai dengan target dan memberikan manfaat nyata bagi petani,” pungkas Deny. (Nawawi)








Tinggalkan Balasan