Petani Tebu Minta PG Sindanglaut Tetap Giling
Warning: Attempt to read property "post_excerpt" on null in /home/slawipos/tintabiru.com/wp-content/themes/liputanwp/template-parts/single/single-desktop.php on line 79
LEMAHABANG, (FC).- Puluhan petani tebu mendatangi Pabrik Gula (PG) Sindanglaut di Desa Cipeujeuh Wetan, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon melakukan, Senin (2/3). Mereka (petani tebu) mempertanyakan berhentinya operasional PG Sindang Laut di tahun 2020.
Perwakilan Petani Tebu, Mae Azhar mengatakan, atas nama petani tebu belum puas dengan audiensi hari ini terkait tuntutan pihaknya agar Pabrik Gula Sindanglaut ini harus tetap giling.
“Kami berharap pihak manajemen untuk bisa mempertimbangkan pemberhentian giling di tahun 2020 ini, karena aspek sosial yang perlu dikaji ulang, selain para pegawainya banyak yang berhenti, para petani tebu juga akan kehilangan pendapatan,” kata Azhar usai audiensi dengan manajemen PG Rajawali dan dari Polresta Cirebon.
Sementara itu, General Manager (GM) PG Sindanglaut, Muhammad Wisri Mustofa menuturkan, keputusan ini merupakan pilihan sulit yang harus diambil oleh manajemen setelah evaluasi atas perjalanan pabrik gula. Terlebih hasil kajian dari LPP (Lembaga Pendidikan Perkebunan) Jogjakarta merekomendasikan kepada PT PG Rajawali II untuk menutup salah satu PG di Cirebon.
“Ini tentu berat buat kami. Apalagi PG Sindanglaut punya historical yang panjang. Tapi keputusan sudah dibuat. PG Sindanglaut tidak akan giling untuk musim giling 2020,” ujarnya,
“Kajian dari LPP Jogjakarta menjadi rujukan kita untuk mengambil kebijakan ini. Rekomendasi LPP Jogjakarta, salah satu pabrik harus ditutup. Dasarnya, ketersedian lahan di wilayah kita tak memungkinkan operasional dua pabrik. Akhirnya setelah dilakukan evaluasi, pilihannya adalah tidak melakukan giling untuk musim giling 2020,” lanjut Wisri.
Keputusan tersebut sudah disosialisasikan dengan berbagai pihak. Mulai organisasi petani tebu, tokoh petani tebu, dan pihak-pihak terkait lainnya.
Pihak manajeman, sambung Wisri, menjamin tidak ada mesin serta alat produksi di PG Sindanglaut yang akan dikeluarkan. Bahkan manajemen akan tetap melakukan perbaikan sambil menunggu waktu PG Sindanglaut akan melakukan giling kembali.
“Berbagai perwakilan terkait pabrik gula sudah kita undang. Sudah kita berikan pemahaman dan sosialisasi. Alhamdulillah, mereka, khususnya para petani, mengerti kondisi pabrik. Tahun ini PG Sindanglaut memang tidak giling. Harapan kita kondisinya membaik dan tahun-tahun berikutnya bisa giling lagi. Makanya alat dan mesin tetap ada di dalam PG Sindanglaut. Untuk tebunya, akan digiling di PG Tersana Baru,” jelasnya.
Dijelaskan Wisri, dari banyak sisi PG Tersana Baru lebih memiliki banyak keunggulan ketimbang PG Sindanglaut. Mulai kapasitas giling yang lebih besar hingga performance PG yang jauh lebih sehat dan bagus jika dibandingkan dengan PG Sindanglaut.
“Beberapa tahun terkahir kita terus mengalami kerugian. Di tahun 2016 rugi Rp430 juta, tahun 2017 sebesar Rp1,5 miliar, tahun 2018 sebesar Rp5,5 miliar dan pada 2019 sebesar Rp1,5 miliar. Kalau secara performance masih bagus PG Tersana Baru. Oleh karena itu, tebu dari wilayah Sindanglaut akan digiling di Tersana Baru,” bebernya.
Wisri pun tak menampik jika akan banyak dampak yang dirasakan terkait berhentinya operasional PG Sindanglaut untuk musim giling tahun 2020. Namun, menurutnya, kelangsungan pabrik sangat erat kaitannya dengan ketersedian lahan. Selama ada lahan, maka pabrik akan terus beroperasi.
“Memang akan terasa dampaknya, tapi mudah-mudahan bisa diminimalisir. Kalau dari pekerja, semua karyawan tetap akan ditarik ke Tersana Baru. Sementara untuk PKWT (Perjanjian Kerja atau Pekerja Kontrak Waktu Tertantu,-red) akan diberdayakan sesuai kebutuhan perusahaan. Tapi untuk bagian tanam akan diberdayakan karena area lahan di Sindanglaut masih ada dan luas,” katanya.
Wisri menjelaskan, jika digabung, maka luas lahan PG Sindanglaut dan PG Tersana Baru akan cukup untuk giling di Tersana Baru. Saat ini luas lahan di PG Sindanglaut sekitar 1.800 hektare dan di PG Tersana Baru sekitar 2.700 hektare. PG Tersana Baru sendiri berlokasi di Babakan Gebang, Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon.
“Kita ini baru bisa memasok kebutuhan gula Jawa Barat sekitar 10 persennya. Untuk kita sendiri total yang bisa diproduksi baru sekitar 28 ribu ton. Otomatis kurang. Makanya nanti ada formula mix dengan impor raw sugar. Kalau dengan target yang diberikan dan realisasi, kita butuh impor raw sugar,” ucapnya. (Harun)








Tinggalkan Balasan