KAB.CIREBON, (FC).- Di tengah gencarnya wacana pertanian berkelanjutan, seorang petani muda asal Desa Sampih, Kecamatan Susukanlebak, Kabupaten Cirebon justru merasa berjalan sendirian.

Mohammad Shobirin, petani milenial yang sejak tujuh tahun lalu memilih fokus di pertanian organik, mengaku belum pernah tersentuh program apapun dari pemerintah.

“Saya merasa pemerintah tidak serius menerapkan sistem pertanian organik di Cirebon. Buktinya, selama ini kami tidak pernah dilibatkan atau diberi pendampingan,” ungkap Shobirin, Rabu (3/9).

Shobirin bukan hanya bertani, tapi juga mengedukasi warga di sekitarnya tentang pentingnya pertanian ramah lingkungan. Ia mengelola lahan seluas satu hektare, ditanami padi secara organik tanpa bahan kimia. Dari lahan itulah, ia memproduksi beras organik yang kini mulai diminati sejumlah pelanggan tetap.

Di tengah minimnya dukungan, ia tetap optimistis. “Pasar ada. Orang-orang mulai sadar pentingnya makan sehat. Tapi petaninya belum banyak, karena nyaris tidak ada dukungan,” ujarnya.

Ketika disinggung soal kegiatan anggota DPRD Cirebon, Hasan Basori, yang beberapa hari lalu menyalurkan bantuan Pupuk Hayati Cair (PHC) kepada kelompok tani di Desa Curug Wetan desa tetangga di kecamatan yang sama, Shobirin hanya tersenyum.

“Enggak diajak. Tapi enggak apa-apa. Saya juga sudah terbiasa mandiri. Mungkin memang belum dianggap,” katanya menahan kecewa.

Meski tak dilibatkan, ia tak menyimpan dendam. Ia hanya berharap ke depan, pendekatan program pemerintah lebih menyentuh pada mereka yang memang sudah berbuat.

Dalam kesehariannya, Shobirin meracik sendiri pupuk organik cair (POC) dari bahan-bahan sederhana yang bisa ditemukan di dapur rumah: air kelapa, air cucian beras, tetes tebu, dan buah jeruk.

“Murah, alami, dan menyehatkan tanah. Tapi butuh proses. Itu sebabnya banyak yang ogah,” ujarnya sambil menunjukkan ember berisi pupuk yang sedang difermentasi.

Bagi Shobirin, menjadi petani bukan hanya soal bertani. Tapi juga tentang menjaga bumi, tanah, dan kehidupan yang lebih sehat untuk generasi berikutnya. Sayangnya, ia merasa pertanian organik di Cirebon belum mendapat tempat yang layak.

“Selama ini saya enggak minta apa-apa, cuma pengakuan dan keseriusan. Bukan seremonial, tapi program nyata. Petani seperti kami butuh keberpihakan,” tegasnya.

Shobirin bertekad akan terus bertani secara organik. Ia percaya perubahan besar dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Bahkan meski harus sendirian. (Nawawi)