Penyatuan Hari Jadi Perlu Kajian Mendalam
Warning: Attempt to read property "post_excerpt" on null in /home/slawipos/tintabiru.com/wp-content/themes/liputanwp/template-parts/single/single-desktop.php on line 79
KOTA CIREBON, (FC).- Dukungan penyatuan hari jadi antara Kota dan Kabupaten Cirebon kembali mendapatkan dukungan. Kali ini datang dari Wakil Ketua DPRD M Handarujati Kalamullah.
Pria yang akrab disapa Andru ini menyampaikan, prinsipnya bila ini berdampak positif bagi kedua daerah, hal ini bisa saja dimungkinkan terjadi. Melalui kajian yang mendalam, baik sumber literaturnya, mana yang ingin dipakai.
Literatur yang dimaksud adalah apakah nantinya memakai Purwaka Caruban Nagari dari Kota Cirebon, yang merupakan karya dari Pangeran Arya Cirebon. Kemudian terkait penanggalannya, dimulai dari mana. Apakah dari Babad Alas Witana ataupun dimulai dari berdirinya Negara Carbon pada saat itu.
“Selain itu, harus dilibatkan para sejarawan untuk mengkaji secara mendalam hal-hal yang terlupakan terkait penentuan hari jadi Cirebon,” ujarnya kepada FC, Minggu (23/8).
Dilibatkannya sejarawan, kata dia, guna mendapatkan sisi yang paling pas penanggalan hari jadi. Karena mereka memiliki kompetensi yang tepat akan hal ini. Apakah yang ke 651 sebagai mana Hari Jadi Kota Cirebon atau yang ke 538 yang merupakan Hari Jadi Kabupaten Cirebon.
Pihaknya dalam posisi mendukung penyatuan hari jadi ini. Pasalnya antara kota dan kabupaten ini ruang lingkupnya sama. Apalagi keduanya memiliki kesamaan sejarah dan keturunan dari Sunan Gunung Jati.
Ditegaskannya kembali, untuk penyatuan ini harus menyamakan persepsi dulu lewat literatur sejarah yang ada. Bila ada kesimpangsiuran terkait dengan sejarah, harus ada pelurusan sejarah dulu. Seterusnya dilakukan kajian mendalam oleh pihak yang berkompeten dan sumber yang valid serta akurat.
“Dan bila dari kajian tersebut sudah dicapai kesepahaman dan kesepakatan dua belah pihak, maka bisa saja perda masing-masing daerah direvisi,” ungkapnya.
Andru yang juga menjabat Ketua DPC Partai Demokrat ini mendorong pihak eksekutif untuk pro aktif dalam membuka komunikasi dengan kabupaten. Karena dengan begitu saluran komunikasi yang lainnya akan bisa berjalan.
Sebelumnya Walikota Cirebon Nashrudin Azis seusai rapat paripurna DPRD menyampaikan, pada dasarnya kedua daerah berasal dari keturunan yang sama, yakni dari pendiri Cirebon.
Hanya saja kemudian ada perbedaan penghitungan mulai Witana atau awit-awite ana, ini yang digunakan oleh Kota Cirebon. Sedangkan kabupaten mungkin memakai perhitungan yang lain.
“Kami akan menjajagi upaya yang mengarah pada penyatuan hari jadi ini. Yah, tentu perlu dilakukan pembahasan dan kajian dulu yang melibatkan kedua daerah dengan menyertakan para ahli sejarah dan lainnya,” pungkasnya. (Agus)








Tinggalkan Balasan