KAB. CIREBON, (FC).- Tanggapi relokasi Rumah Potong Hewan (RPH) Battembat Dawuan menuju Sumber. Ternyata, memunculkan respon yang cukup bervariatif mulai dari penolakan dan persetujuan.

Namun, dibanding pro lebih didominasi oleh kontra.

Pelaksana yang membantu kepala UPT RPH Battembat Dawuan Untung menyebutkan, setuju dengan relokasi.

Dirinya telah menginginkan relokasi ini sejak lama. Sebab, ia merasa RPH yang berlokasi di Battembat Dawuan milik Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Cirebon sudah tidak layak lagi.

“Bagus sih, kalau memang mau dipindah, soalnya disini tuh sudah tidak layak,”katanya, Selasa (16/3).

Untung yang telah bekerja sejak tahun 80-an menuturkan, bahwa lokasi RPH saat ini sudah tidak sesuai. Berbeda dengan dahulu.

Yang memang masih belum padat akan pemukiman penduduk. Mungkin, memang dahulu didominasi oleh peternak dan penjagal sapi milik warga.

Namun, saat ini sudah terlalu padat. Baik dikarenakan, warga lokal maupun perantau.

Perihal pemindahan RPH yang berlokasi cukup jauh. Bagi Untung, sebagai pegawai sudah menjadi tugasnya untuk siap ditempatkan dimanapun lokasinya meski memakan waktu dan ongkos sekalipun.

“Ya ga, kan pegawai kerja dimana saja. Siap ditempatkan dimana saja,” tegas, Pria asli Dawuan Battembat ini.

Untung berharap RPH segera direlokasi secepat mungkin. Karena, selain padat penduduk. Ukuran lahan pun tidak memenuhi standar yaitu, kisaran 1,5 hektare. Dari ukuran seharusnya minimal 3 hektare.

Selain lahan, kondisi RPH pun sudah tidak layak. Baik dari Instalasi Pengelolaan Ail Limbah (IPAL), lingkungan peternakan, dan peralatan.

“Yang pasti sudah nggak sesuai rumah potong, dan NKP,” imbuhnya.

Karena, lanjut Untung, IPAL sudah overload dalam menampung kotoran mulai dari darah, kotoran halus, dan lainnya. Yang berasal dari kurang lebih 20 ekor sapi yang dipotongs setiap harinya.

Sementara itu, penjagal atau pekerja yang terlibat dalam pemotongan hewan di RPH Battembat Rosyidin mengatakan, dirinya tidak menyetujui relokasi.

Sebab, bukan hanya masalah efisiensi waktu. Melainkan, masalah ongkos bolak-balik dari Sumber – Dawuan, begitupun sebaliknya.

“Ongkos bolak-balik Mba masalah pertama. Karena, penjagal kan orang sini (Dawuan, Battembat) semua,” ucapnya.

Selain ongkos, Rosyidin juga menyebutkan, apabila hujan deras tiba. Sebab, para penjagal pun enggan untuk pergi.

Karena, khawatir akan rawannya kecelakaan dan juga alasan lainnya. Terlebih, penjagalan dilakukan diwaktu malam hingga pagi hari.

“Hujan gerimis aja khawatir. Bagaimana, jika hujan deras Mba. Belum lagi penjagalan malam berangkat takut gelap dan licin,” ujarnya, pada FC.

Hampir seluruh warga, dibeberkannya bergantung pada RPH Battembat ini. Mulai dari penjagal, tukang daging, pelaku usaha makanan maupun masyarakat. Yang telah mengenal daerah ini sebagai lokasi penjagalan.

“Coba saja Mba tanya, banyak dari berbagai kalangan. Disini bergantung dengan RPH milik Pemda ini,”jelasnya.

Apabila jauh, tambah Rosyidin, maka para penjual daging pun enggan membeli. Sebab, pasar daging pun dimulai sejak pukul 10.00 hingga 11.00 malam.

Sementara bila dijauhkan, maka akan menyulitkan penjual daging yang selalu pasang tikar pada jam tersebut.

Begitupun penjagal lain, yang tidak ingin disebutkan namanya menyampaikan hal yang sama. Jarak tempuh jauh, hingga kondisi cuaca yang tak menentu membuat relokasi ini ditolak.

Terlebih, dirinya khawatir apabila yang digarap ini nantinya merupakan RPH Modern. “Kalau RPH Modern kan penjagalnya hanya satu orang. Lalu, nanti para penjagal lainnya yang biasa bekerja bagaimana?,” tanyanya.

Meski memang kondisi RPH Battembat sudah tidak layak. Sebaiknya diperbaiki atau dibenahi.

“Dana mungkin saja ada, tapi apakah nantinya benar-benar terealisasi atau tidak,” ungkapnya.

Terealisasi yang dimaksud adalah akankah pengelolaan RPH akan maksimal. Baik dari segi kebersihan, cara pemotongan, dan lain sebagainya.

Karena, apabila akan berulang kembali pembangunan RPH baru akan sia-sia. Sementara penjagal di tempat lain yang merupakan milik perorangan Cipto menyampaikan, keprihatinannya terhadap kawan-kawannya.

Yang mengais rezeki di RPH milik Pemda. Sebab, harus merogoh kocek lagi untuk ongkos. “Kasihan sih, banyak warga sini termasuk ada teman saya yang kerja disitu harus jauh jagalnya,”tandas Cipto singkat. (Sarrah)