INDRAMAYU, (FC).- Memasuki puncak panen raya, harga gabah di Kabupaten Indramayu dalam posisi tinggi.

Produktivitas gabah yang dihasilkan petani pun cukup tinggi.

‘’Ya pertengahan Agustus ini sudah mulai masuk puncak panen raya,’’ kata Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang, Kamis (19/8).

Sutatang menyebutkan, di berbagai daerah yang kini sedang panen, harga gabah justru tinggi.

Dia menyebutkan, harga gabah kering panen (GKP) ditingkat petani saat ini di kisaran Rp4.500-Rp5.200 perkilogramnya.

Harga itu di atas harga pembelian pembelian pemerintah (HPP) yang ditetapkan pemerintah.

Berdasarkan Permendag Nomor 24 Tahun 2020, HPP GKP mencapai Rp4.200 perkilogramnya di tingkat petani.

Dijelaskannya, tingginya harga gabah itu disebabkan tingginya tingkat rendemen gabah.  Jika gabah digiling, maka akan menghasilkan beras yang kualitasnya bagus.

Saat dijual di pasaran, maka beras tersebut dihargai dengan harga tinggi.

Menurutnya, tingginya kualitas gabah yang dipanen itu tak lepas dari kecukupan air selama masa tanam.

Ditambah varietas yang digunakannya unggul dan faktor tanahnya. Selain itu, tanaman padi selama musim tanam gadu ini relatif aman dari gangguan hama.

Karenanya, tanaman padi bisa tumbuh tanpa gangguan yang berarti.

Diakuinya, saat panen perdana pada akhir Juli atau awal Agustus, harga GKP di tingkat petani masih dibawah HPP.

Yakni, di kisaran Rp3.800-Rp 4.000 perkilogramnya. Dia mengatakan, saat itu panen baru dialami daerah-daerah yang lahannya tadah hujan.

‘’Jadi suplai airnya kurang sehingga kualitas gabahnya kurang bagus,’’ terangnya.

Meski demikian, baik sawah yang kini sedang panen maupun sawah yang panen perdana, produktivitas panennya sama-sama cukup tinggi. Yakni, diatas tujuh ton perhektar.

Sutatang menjelaskan, meski harga gabahnya tinggi, namun para petani memilih tidak menjual seluruh hasil panennya.

Menurutnya, mereka menyimpan sebagian hasil panennya untuk kebutuhan musim tanam rendeng (penghujan) 2021/2022 pada Oktober nanti.

‘’Apalagi sekarang cuacanya panas, petani mudah menjemur dan menyimpan gabahnya tanpa khawatir gabahnya rusak,’’ terangnya.

Dengan harga yang tinggi seperti sekarang, petani pun lebih memilih menjual gabahnya kepada tengkulak dibandingkan ke Bulog.

Pasalnya, Bulog hanya membeli gabah petani dengan harga sesuai HPP.

Salah seorang petani di Kecamatan Cikedung, Jenudin, mengaku bersyukur dengan hasil panennya kali ini.

Dia menyebutkan, hasil panennya mencapai sekitar 7,5 ton per hektare. Apalagi, harga gabahnya juga dihargai Rp5.200 perkilogramnya.

‘’Alhamdulillah. Tapi saya hanya menjual sedikit untuk kebutuhan sehari-hari saja. Lainnya saya simpan untuk modal tanam rendeng nanti,’’ tutur petani yang menanam padi seluas dua hektare itu

Terpisah, Pimpinan Bulog Cabang Indramayu, Dadan Irawan, menyatakan, pihaknya terus memaksimalkan penyerapan gabah di masa panen ini.

Meski dia mengakui, harga gabah yang tinggi di tingkat petani menjadi kendala dalam penyerapan tersebut.

‘’Asalkan kualitasnya sesuai standar dan harganya ‘masuk’ (sesuai HPP), kami tetap lakukan penyerapan,’’ kata Dadan.

Dadan menyebutkan, target pengadaan Bulog Indramayu pada tahun ini mencapai 38 ribu ton setara beras.

Dari jumlah itu, sudah terealisasi sekitar 18 ribu ton. Dia pun terus mengupayakan agar bisa memenuhi target hingga akhir tahun nanti. (Agus)