Wardja, rumah makan bernuansa etnik pedesaan yang baru saja dilaunching Jumat pekan kemarin.

Kayu dan interior lawas, kursi mejanya serba klasik. Bahkan tempat penyajian masakanya pun tak luput dari kesan jaman dulu. Pengunjung akan diajak bernostalgia tahun 1990 an. Maka itu tempat makan ini disebut juga Abah Wardja Wedangan 90 an.

“Kita memang nuansanya 90 kebawah. Musiknya juga nuansa musik dibawah 90an seperti lagu-lagu Erni Johan, Ebiet G Ade,” jelas Heru

Ia tak menyangka, usaha barunya ini mendapat respon dari banyak pengunjung yang sudah ramai datang sebelum resmi beroperasi.

“Belum Grand Opening sudah banyak orang-orang yang datang kesini. Adapun target pasar atau pengunjung kami dari kalangan bawah sampai menengah atas, semua datang disini. Karena sekarang orang bosan dengan masakan-masakan perkotaan, makanan-makanan siap saji,” katanya

Menu yang ditawarkan disini yaitu menu-menu tradisional seperti, sayur cabe, sayur asem, sambal Wardja, ampas kecap (tauco), sop ceker, sayur tahu cemilan rebusan seperti singkong, pisang ,kacang, jajanan jadul serta aneka wedangan.⁣

“Kita ada Cuwing yang memang susah dicari. Ada sayur sop ceker ayam, sambalnya sambal kampung. Jadi benar-benar konsep menu tradisional,” ujar Heru. (Andriyana)