“Ocien” Si Pembawa Hoki Usaha Kripik Tempe
Warning: Attempt to read property "post_excerpt" on null in /home/slawipos/tintabiru.com/wp-content/themes/liputanwp/template-parts/single/single-desktop.php on line 79
KAB. CIREBON, (FC).- Dianggap sebagai pembawa hoki, nama panggilan atau nama kecil istri, “Ocien”, dijadikan merk atau nama produk usaha kripik tempe milik pasangan suami istri asli Ciamis Hendra dan Yeni yang telah dibangun sejak 2014 lalu.
Yeni mengakui apabila sang suami Hendra sempat mengalami kebingungan saat menamai produk usaha milik mereka. Maklum, keduanya tidak memiliki pengetahuan mendalam terkait berbisnis atau kuliner. Terlebih Yeni merupakan seseorang yang berlatar belakang pendidikannya juga bekerja di ruang lingkup kesehatan.
Begitu pula dengan sang suami, Hendra, merupakan lulusan sarjana teknik Informatika, yang lebih menguasai dunia tekhnologi atau program-program.
Oleh karena itu, sang suami Hendra mengambil nama panggilan sang istri “Ocien” sebagai nama produk kripik tempe milik mereka. Disisi lain, nama Ocien sendiri terdengar catchy atau menarik.
Yeni atau akrab dipanggil Ocien sendiri mengungkapkan, bila nama panggilan tersebut tidaklah sekonyong-konyong datang begitu saja. Melainkan, berawal pada masa dimana Yeni masih kanak-kanak.
Kembali pada kurang lebih 25 tahun silam, Yeni kecil yang masih usia belia kerap disamakan atau dimiripkan dengan karakter utama kartun Jepang Oshin baik oleh sanak, saudara, dan tetangganya.
“Katanya, saya itu mirip dengan karakter oshin yang kartun jepang pake kimono itu loh,” ujarnya pada FC, Kamis (22/10).

Dikarenakan pada saat kecil berada di tanah kelahirannya yaitu Ciamis dan mengikuti pelafalan atau pengucapan orang khas sunda nama Oshin pun diubah menjadi Ocien.
Sejak saat itulah, Yeni lebih dikenal orang-orang dengan nama panggilan Ocien. Lucunya, banyak orang yang kurang mengetahui nama asli Ocien.
Alhasil, setiap kali orang luar yang hendak bertamu atau bermain ke rumahnya kerap temui kesulitan dalam mencari alamat.
“Pernah teman itu dulu cari alamat tanya nama “Yeni” ke tetangga, dan nggak ada yang tahu sampai akhirnya teman itu menyebutkan nama Ocien, barulah tetangga tunjukan alamatnya,” ungkapnya.
Yeni, pun menyampaikan, apabila kemungkinan besar, nama produk mereka yaitu Ocien membawa keberuntungan atau hoki bagi usaha mereka.
Karena, memang awal memulai usaha di Ciamis dirinya dan suami pada saat 2014 kebawah sebelum memulai usaha tempe sang suami berpuluhan kali mencoba dan mengganti usaha.
Hingga, akhirnya berkunjung pada kawannya yang juga miliki usaha kripik tempek. Sang suami turut mencoba dan memasarkan pula.
Namun, tak seindah ekspektasi. Nyatanya, puluhan penolakan di dapat dari berbagai toko yang disebabkan oleh berbagai alasan.
Puluhan hingga ratusan resep dan teknik ia coba, agar dapat menemukan resep kripik tempe apa yang pas dan cocok selaligus layak untuk diproduksi, dijual, dan dipasarkan kepada masyarakat.
Sampai suatu ketika, pasangan ini temukan lubang atau celah masalah yang perlu diisi atau diperbaiki.
“Coba lagi, resep ini dan itu, saran dan masukan dari berbagai pihak. Kepikiran, awalnya, takut ada rasa yang nggak enak atau aroma tidak sedap dan ternyata minyak untuk penggorengan itu salah satu diantaranya,” ungkap Ocien.
Pakai minyak curah, lanjut Ocien, tidak awet dan cepat bau. Rasanya pun tidak enak untuk dikonsumsi. Begitupun dengan tekstur kripiknya juga berpengaruh.
Sehingga, Ocien dan suami menggunakan minyak kantung per 2 liter yang ada di pasaran atau super market. Untuk merk minyak yang digunakan pun tidak hanya terpatok pada satu merk.
“Merknya sih apa saja yang penting memang kualitasnya bagus bukan curah dan kadang kalau memang diskon walau merknya bukan yang biasa saya pakai, selama itu gradenya oke ya ambil,” ucapnya sambil terkekeh

Tidak dapat dipungkiri memang, harga untuk minyak kantungan 2 samapi 3 kali lipat lebih mahal dibanding curah. Terlebih, sekali pakai untuk 1 wajan besar bisa mencapai 4 kantung minyak atau sekitar 8 liter dan ditambah dengan 7 wajan lainnya menjadi, sekitar 64 liter sekali menggoreng.
Namun, yang ingin Ocien dan suami jual bukan sekedar makanan pengisi jenuh atau lapar, melainkan menjual kepercayaan dan kualitas. Sehingga, orang tidak akan merasa jera untuk membeli.
Dan setelah dirubah dari teknik penggorengan dan lainnya baru lah kripik tempe Ocien ini mulai digemari dan diminati masyarakat luas.
Ocien mengungkapkan sebenarnya, sang suami masih pada saat itu (2014 awal) masih aktif mengajar sebagai honorer di sebuah instansi pendidikan di Ciamis. Namun, dikarenakan ingin membangun dan mengembangkan usaha, sang suami akhirnya melepas pekerjaan tersebut.
Dimulailah untuk fokus kepada usaha kripik tempe Ocien yang penuh rintangan, dan ketika mulai lancar dan diterima masyarakat, Ocien harus melepas kepergian sang ayahanda ke pangkuan ilahi di tahun yang sama pada saat memulai usaha.
“Ini kan usaha dimulai bareng-bareng dari 0 banget dari 1 tahun setelah menikah, jadi terasa banget perjuangannya dan pada saat udah mulai lancar, bapak meninggal,” kata Ocien.
Pada saat itulah, sang suami Hendra dan istri Ocien memilih untuk memboyong keluarganya termasuk sang ibu ke Kabupaten Cirebon.

Adapun alasan kepindahan mereka ke Cirebon dikarenakan, almarhum ayahanda Ocien yang memiliki bengkel tambal ban dan matrial di Cirebon tepatnya di area kawasan PT Indocement Palimanan.
Ocien sendiri mengungkapkan, sebenarnya sebelum sang ayahanda tiada, almarhum bercita-cita untuk mendirikan usaha roti bakar di Cirebon. Terlebih almarhum telah memiliki bengkel di Cirebon. Artinya, sudah ada keinginan sejak lama untuk menetap di Cirebon bersama anak dan istri.
“Oven sudah buat, loyang juga sudah buat, segala-galanya sudah dipersiapkan bahkan, sudah belajar resep membuat rotinya. Namun, karena yang diatas berkata lain, maka cita-cita bapak pun tak tersampaikan,” ungkap Ocien.
Akhirnya, sambungnya, dijual lah peralatan yang telah dibuat dan dikumpulkan kepada sanak saudara. Meski begitu, keinginan sang ayah untuk pindah ke Cirebon dan membangun usaha tercapai, walaupun berbeda jenis usahanya.
Untuk omzet sendiri sebelum pandemi kurang lebih ocien dan suami mendapatkan 50 Juta rupiah perbulan. Sedangkan saat ini pandemi hanya 50% dari pendapatan perbulan seharusnya.
Untuk pengirimannya pun telah melanglang buana hingga Batam dan kota-kota di timur lainnya. Begitupun pengiriman di luar negeri telah mencapai beberapa negara di Asia Tenggara, salah satunya Malaysia.
Kembali lagi dengan kondisi saat ini, yaitu pandemi covid, mengharuskan Ocien dan suami alami penurunan pemesanan atau permintaan baik luar negeri maupun dalam negeri.
Permintaan antar kota saja yang biasanya mencapai 2-3 kali perminggu permintaan sekarang hanya 1 kali perminggu untuk setiap toko. (Sarrah/Job/FC)








Tinggalkan Balasan