Nelayan Diminta Waspadai Fenomena La Nina
Warning: Attempt to read property "post_excerpt" on null in /home/slawipos/tintabiru.com/wp-content/themes/liputanwp/template-parts/single/single-desktop.php on line 79
KOTA CIREBON, (FC).- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika BMKG memprediksi fenomena La nina terjadi November, Desember 2021 hingga awal tahun 2022.
La Nina berpengaruh terhadap tingginya curah hujan dan gelombang dilautan. Kondisi ini akan berpengaruh terhadap beberapa sektor diantaranya perikanan.
La Nina adalah turunnya Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah hingga kurang dari kondisi normalnya.
Pendinginan SML ini mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah.
Akibatnya terjadi peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum. Pada bulan September, Oktober, November dampak La Nina terasa di wilayah selatan, tengah dan timur.
Sedangkan pada Desember, Januari, Februari efek La Nina bisa dirasakan di wilayah tengah-utara.
Sesuai peringatan BMKG, fenomena La Nina yang artinya yang artinya anak perempuan berisiko memicu bencana hidrometeorologi. Bencana ini meliputi banjir, longsor, angin kencang atau puting beliung ataupun terjadinya badai tropis.
BMKG pun mengingatkan agar nelayan di perairan Cirebon dan Indramayu agar tetap waspada dan tidak memaksakan melaut jika kondisi cuaca sedang tidak bersahabat. Hal itu diungkapkan Prakirawan Cuaca BMKG Stasiun Kertajati Majalengka Ahmad Faidzin, kepada FC Kamis (04/11).
“Nelayan diminta waspadai adanya fenomena La Nina,” ungkapnya.
Dikatakan pria yang akrab disapa Faid ini, prakiraan harian tinggi gelombang berlaku tanggal 04 November 2021 pukul 07.00 WIB hingga 05 November 2021 Pukul 07.00 WIB.
Untuk Laut Jawa Bagian Barat, tinggi gelombang berkisar 0.1 – 0.5 meter (klasifikasi tinggi gelombang kategori tenang) dan Perairan Utara Indramayu – Cirebon tinggi gelombang berkisar 0.1 – 0.5 meter (klasifikasi tinggi gelombang kategori tenang).
“Sampai saat ini kondisi gelombang tidak terlalu tinggi, tapi tetap waspada,” imbuhnya.
Sementara itu Salah seorang nelayan Kampung Kesenden Kecamatan Kejaksan Kota Cirebon Rasdi mengatakan baik buruknya cuaca di perairan laut sudah menjadi hal biasa bagi kalangan nelayan.
Melaut merupakan mata pencaharian rutin tanpa mengenal kondisi cuaca. “Sudah tidak aneh cuaca buruk dilaut, itu resiko nelayan,” katanya.
Rasdi mengaku apapun kondisinya dilaut sudah menjadi hal biasa karena jika tidak melaut tidak akan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.
Meski cuaca buruk membahayakan jiwanya, dirinya hanya bisa bertahan demi mencukupi kebutuhan keluarganya.
“Sebenarnya takut kalau melaut saat hujan deras dan gelombang tinggi, tetapi justru kondisi ini membuat hasil tangkapan ikan lebih banyak disamping juga harga jualnya mahal” katanya. (Agus)








Tinggalkan Balasan