MAJALENGKA, (FC).- Peringatan Hari Ibu ke – 97 Tahun 2025 menjadi momentum refleksi tersendiri, bagi perempuan Indonesia untuk terus berdaya, berkontribusi, dan mengambil peran strategis dalam kehidupan keluarga maupun ruang publik.

Hal itu ditegaskan Komisioner KPU Kabupaten Majalengka, Elih Solehah Fatimah, saat memaknai Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember.

Menurut Elih, Hari Ibu bukan sekadar perayaan simbolik, melainkan pengingat akan perjuangan panjang perempuan Indonesia sejak Kongres Perempuan Pertama tahun 1928. Perempuan, kata dia, memiliki peran penting sebagai penggerak perubahan sosial, penjaga nilai kemanusiaan, sekaligus penopang ketahanan keluarga dan bangsa.

“Perempuan hari ini dituntut untuk mampu berdaya di berbagai peran. Menjadi ibu dan istri di rumah, sekaligus berkontribusi secara aktif di ruang publik,” kata Elih, Senin (22/12).

Sementara itu, selain menjalankan tugas sebagai Komisioner KPU, Elih juga menempuh pendidikan Pascasarjana Magister Ilmu Administrasi Konsentrasi Kebijakan Publik di Universitas Majalengka. Ia mencatatkan capaian akademik gemilang dengan IPK 4,0 pada semester pertama dan kedua.

Di tengah kesibukan sebagai penyelenggara pemilu dan mahasiswi, Elih tetap menempatkan keluarga sebagai prioritas utama. Anak-anaknya dididik dengan cinta, kedisiplinan, dan nilai kejujuran hingga mampu menyelesaikan pendidikan sarjana sebelum memasuki semester tujuh.

“Bagi saya, keberhasilan mendidik anak adalah bentuk pengabdian yang paling nyata,” kata Elih yang hobi membaca dan menulis ini.

Karier Elih berawal dari dunia pendidikan. Ia lulus sebagai guru pada 2005, memperoleh sertifikasi guru dan mengikuti PLPG pada 2007, meraih predikat guru berprestasi pada 2010, serta mendapatkan inpassing golongan 3B pada 2011.

Pada 2018, Elih mengikuti rekrutmen Komisi Pemilihan Umum dan dinyatakan lolos, kemudian kembali dipercaya melalui proses seleksi berikutnya.

Dalam konteks Peringatan Hari Ibu 2025, yang mengangkat tema pemberdayaan perempuan, termasuk perempuan pesisir, Elih menilai masih banyak tantangan yang dihadapi perempuan, mulai dari keterbatasan akses sumber daya hingga perlindungan sosial.

Karena itu, sinergi seluruh elemen bangsa sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang ramah dan mendukung perempuan serta anak.

“Perempuan bukan hanya ibu dalam keluarga, tetapi juga agen perubahan sosial dan penggerak pembangunan. Jika perempuan berdaya, bangsa akan kuat,” tegasnya.

Elih berharap semangat Hari Ibu terus menjadi inspirasi bagi perempuan Indonesia untuk tidak berhenti belajar, berkarya dan mengabdi demi terwujudnya Indonesia yang setara, inklusif, dan berkeadilan menuju Indonesia Emas 2045. (Munadi)