KAB. CIREBON, (FC).- Minyak goreng curah dalam kemasan Minyakita mendadak langka dan harganya kian melambung tinggi hingga Rp18 ribu per liternya di pasar tradisional Kabupaten Cirebon. Padahal, produk minyak goreng yang diluncurkan Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan tahun lalu ini dijual dengan harga eceran tertinggi Rp14 ribu per liter.

Pantauan Fajar Cirebon di Pasar Pasalaran Desa Weru Lor, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Senin (30/1), harga Minyakita dijual dengan harga paling rendah Rp16 ribu per liter hingga Rp18 ribu.

Salah satu warga Kabupaten Cirebon, Yanti (35) mengatakan, selain harga yang melambung, salah satu kebutuhan pokok tersebut pun sulit didapatkan dalam beberapa hari terakhir ini. Ia pun terpaksa menggunakan minyak goreng kemasan untuk berjualan, meskipun perbedaan harga terpaut hingga Rp5000 setiap liternya. “Susah dicari, kalau minyak goreng kemasan masih ada, cuma harganya lebih mahal,” kata Yanti, Senin (30/1).

Ia meminta, kepada pemerintah segera mencari solusi terbaik untuk menyelesaikan permasalahan kelangkaan Minyakita di pasaran. “Repot juga kalau setiap jualan harus pakai minyak goreng kemasan,” kata Yanti.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Cirebon, Dadang Raiman melalui Plt Kepala Bidang Perdagangan, Pengendalian Barang Pokok dan Penting, Ine Triana mengatakan, kelangkaan terjadi akibat tidak adanya pasokan dari pihak produsen. Kondisi tersebut, lanjut Ine, terjadi sejak beberapa pekan terakhir ini. Pasokan kembali Minyakita, dinformasikan akan dilakukan oleh pihak produsen pada Februari 2023.

“Laporan dari Bulog pasokan sedang langka. Sementara ini, kami minta tidak menjual Minyakita dengan harga yang tidak sesuai HET,” kata Ine.

Berdasarkan data yang ia terima dua pekan lalu harga Minyakita Rp15.500. Kemarin di pedagang paling tinggi Rp18 ribu. Itupun barang langka, dan menunggu dari produsen. “Permintaan memang banyak. Kalau di pasar kita hanya memantau saja. Teguran tidak ada, hanya pemantauan saja. Himbauan kita sampaikan, Minyakita harus dijual sesuai HET,” kata Ine.

Menurutnya, kelangkaan terjadi bisa dikatakan sejak awal tahun ini, namun ketika pasokan datang pasti pihaknya akan memantau lagi, kalau saja masih tetap saja harganya tidak ada perubahan, patut dipertanyakan, ada apa?

“Operasi pasar murah (OPM) ada rencana, tapi sebelum bulan Maret, tepatnya menjelang Ramadan dan pada saat Ramadan atau sebelum IdulFitri. Tempatnya di Sumber, kalau menjelang Ramadan kita masih mencari lokasinya yang benar-benar tepat sasaran,” kata Ine.

Diakuinya, di tahun ini karena keterbatasan anggaran dalam setahun, dinasnya ini hanya dua kali melaksanakan bazar murah, padahal dinasnya dituntut untuk pengendalian inflasi. “Tahun-tahun sebelumnya, biasa OPM atau bazar murah bisa dilaksanakan sampai 6 kali. Dan tahun ini hanya dua kali saja dalam setahun,” pungkasnya. (Ghofar)