KOTA CIREBON, (FC).- Ada sebuah lapak warung gado-gado sederhana di Jalan Ampera Raya, Kota Cirebon, yang melahirkan kisah inspiratif yang kini menjadi perbincangan banyak orang di Cirebon.

Penjual gado-gado yakni pasangan R.M. Bunur dan Neneng memiliki anak pertama bernama Elang Haikal Arkaningrat, yang beberapa waktu lalu resmi diterima sebagai Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan Tahun 2025 di Semarang.

Siapa sangka, dari balik kesibukan orang tuanya meracik bumbu kacang dan menyiapkan piring-piring gado-gado untuk pelanggan, tumbuh seorang pemuda yang menyimpan mimpi besar menjadi perwira Polri.

Mimpi itu bukan sekadar angan, tetapi diperjuangkan dengan penuh keringat, kerja keras, dan doa yang tak putus dari kedua orang tuanya.

“Kami selalu mendampingi Elang, mulai dari pendaftaran hingga dinyatakan lolos. Ini bentuk dukungan kami sebagai orang tua,” ujar R M Bunur, Selasa (26/8/2025).

Lahir pada 1 Agustus 2007, Elang menempuh pendidikan dasar di SDN Kebon Baru 7, kemudian melanjutkan ke SMPN 5 Kota Cirebon, sebelum akhirnya menginjak bangku SMA di Krida Nusantara Bandung.

Lingkungan sederhana tak membuat semangat Elang surut. Sejak kecil, ia sudah menanamkan cita-cita menjadi polisi, sebuah profesi yang ia pandang mulia karena bertugas melindungi dan mengayomi masyarakat.

Namun, jalan menuju Akademi Kepolisian (Akpol) bukan perkara mudah. Ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia bersaing memperebutkan kursi taruna.

Elang harus melewati serangkaian tes yang panjang dan ketat, mulai dari pendaftaran di Polres domisili asal, tes kesehatan, psikologi, akademik, jasmani, hingga tahap penentuan akhir atau pantukhir di Polda Jawa Barat.

“Tantangan terbesar adalah persaingan yang luar biasa ketat. Pesertanya datang dari berbagai kota besar, semuanya punya kemampuan yang hebat,” kata Bunur.

Meski begitu, Elang membuktikan dirinya pantas. Ia tak hanya lolos, tetapi meraih hasil luar biasa. Menurut Bunur, Elang meraih Ranking 1 dari Jawa Barat. Prestasi ini membuat keluarga bangga.

Dari ratusan peserta yang mendaftar di Polda Jawa Barat, Elang menjadi calon taruna (Catar) asal Kota Cirebon yang berhasil menembus gerbang Akpol tahun ini.

Setelah dinyatakan lolos, perjuangannya belum berhenti. Ia masih harus mengikuti tahapan seleksi tingkat pusat, Uji Kemampuan Jasmani (UKJ), dan berbagai tes lainnya yang juga sangat ketat.

Hingga akhirnya, pada 6 Juli 2025, Elang resmi masuk pendidikan di Akpol Semarang. Hari itu menjadi momen yang tak terlupakan, baik bagi Elang maupun keluarganya.

“Rasanya seperti mimpi. Dulu kami sering bertanya, apakah mungkin anak kami bisa sampai ke titik ini? Ternyata dengan kerja keras dan doa, Allah memberikan jalan,” ucap Bunur dengan mata berkaca-kaca.

Menurut Bunur, salah satu hal yang membuat Elang bisa menembus ketatnya seleksi Akpol adalah disiplin yang ia terapkan sejak dini.

Sejak memutuskan mendaftar, Elang rajin mengikuti bimbingan fisik, tes jasmani, dan belajar akademik. Ia juga menjaga pola hidup sehat agar selalu prima saat menghadapi setiap tahap seleksi.

Tak hanya Elang, orang tua pun berperan besar. Mereka selalu hadir mendampingi, memberikan semangat, bahkan memastikan semua persyaratan administrasi terpenuhi dengan baik.

Menurut Bunur proses seleksi dinilai lebih transparan. Orang tua bisa menyaksikan langsung tes jasmani, sehingga mereka tahu kemampuan anaknya secara objektif. Transparansi ini juga membuat kepercayaan publik semakin tinggi terhadap proses rekrutmen calon taruna Akpol.

Kini, mimpi Elang untuk mengenakan seragam kebanggaan Polri tinggal selangkah lagi. Ia akan menjalani masa pendidikan dengan penuh dedikasi, disiplin, dan tanggung jawab.

Harapan keluarga sederhana ini tak muluk-muluk, agar Elang kelak menjadi perwira yang amanah, menjadi pengayom masyarakat, dan membawa nama baik Kota Cirebon.

“Semoga Elang bisa menjadi kebanggaan keluarga dan masyarakat Cirebon. Kami ingin dia tetap rendah hati, mengabdi dengan tulus, dan selalu ingat dari mana dia berasal,” pungkas Bunur. (Agus)