KAB.CIREBON, (FC).- Janji pemilik tanaman sawit yang berada di perbukitan Desa Cigobang, Kecamatan Pasaleman, Kabupaten Cirebon, yang dijanjikan akan dilakukan pencabutan pada 15 Januari, kini menuai permasalahan baru.

Di tengah harap warga agar bukit kembali hijau oleh tanaman pangan, justru muncul kabar yang membuat resah, yakni ada permintaan ganti rugi Rp15 ribu per pohon sawit.

Kepala Desa (Kuwu) Cigobang, M Abdul Zei, mengaku hingga Kamis (15/1) petang, belum menerima kepastian soal pencabutan dari pihak pengelola.

“Belum. Belum ada info. Terakhir itu pihak PT minta ganti rugi Rp15 ribu per pohon,” ujar Abdul Zei saat dikonfirmasi, Jumat (16/1).

Ketiadaan kabar itu berbanding lurus dengan kecemasan warga. Bagi mereka, tenggang bukan sekadar tanggal di kalender, melainkan batas kesabaran atas aktivitas penanaman sawit yang sejak awal tak pernah mereka kehendaki.

Nurdin (49), salah satu warga sekaligus kerabat pemilik lahan menuturkan, bahwa masyarakat sejak awal memilih menunggu sampai tanggal 15 Januari. Namun, ketika hari itu lewat, yang terjadi justru kebuntuan.

“Responnya menunggu batas akhir pencabutan tanggal 15 Januari. Sementara sudah batas akhir tanggal 15 Januari, belum ada pencabutan. Nah, bahkan dari pihak punya sawit minta ganti rugi Rp15 ribu per pohon. Warga Desa Cigobang yang punya lahan keberatan. Kalau warga keberatan banget,” ucap Nurdin.

Keberatan itu, lanjut Nurdin, bukan tanpa alasan. Warga merasa diposisikan tidak adil, karena penanaman dilakukan tanpa komunikasi, sementara saat akan dicabut justru diminta membayar.

“Warga merasa keberatan lah kalau ganti rugi sampai per pohon Rp15 ribu. Uangnya nggak ada, duit dari mana? Masa waktu nanam aja nggak ngomong-ngomong, nggak bilang-bilang sama pemerintah desa. Sementara untuk pencabutan minta ganti rugi, gimana itu?” jelas dia.

Masalahnya, jumlah pohon sawit di lahan warga tidak sedikit. Dalam satu kepemilikan saja, bisa mencapai ratusan batang.

“Banyak atuh. Ada yang ratusan, bahkan mungkin sudah 400 pohon. Lubangnya sudah ribuan, tapi yang tertanam kurang lebih 400,” katanya.

Di bukit yang selama ini dikenal sebagai kawasan resapan air, setiap batang sawit kini menjadi simbol tarik-menarik kepentingan, di mana antara kebijakan, lingkungan dan beban ekonomi warga.

Bagi warga Cigobang, biaya pencabutan bukan sekadar angka, melainkan pertanyaan besar tentang keadilan. (Nawawi)