Kurangi Beban Biaya, Pompanisasi Pertanian Beralih dari Diesel ke Listrik
Warning: Attempt to read property "post_excerpt" on null in /home/slawipos/tintabiru.com/wp-content/themes/liputanwp/template-parts/single/single-desktop.php on line 79
MAJALENGKA, (FC).- Desa Randegan Wetan Kecamatan Jatitujuh, menjadi salah satu desa yang pertama menerapkan pompanisasi (Proses mengairi lahan pertanian dengan cara memompa air dari sungai) dengan menggunakan tenaga listrik.
Manajer PLN UP3 Sumedang Redi Zusanto mengatakan, pompanisasi menggunakan tenaga listrik ini merupakan salah satu trobosan baru PLN untuk meningkatkan produktifitas hasil tanam para petani dan nama program ini, ialah program pompanisasi potensi bidang agriculture pertanian dan perikanan.
“Dalam program ini, PLN menyediakan listriknya, kita suplay listrik melalui kabel dan KWh meter, instalasi pelanggan. Pelanggan menyediakan kompa listrik yang di couple dengan mesin dinamo kalau bahasa awamnya masyarakat atau bahasa teknisnya motor listrik, itu di cople sama pompa, sehingga pompa tadi yang menyedot air,” ujar Redi kepada wartawan, Rabu (26/5).
Dikatakannya, selama ini, listriknya didapat dari pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dan genset dengan bahan bakarnya solar.
Oleh karena itu dengan hadirnya program ini, PLTD yang semula berbahan bakar solar, dirubah suplay listriknya langsung dari PLN.
Selain itu beberapa manfaat yang bisa dirasakan, diantaranya adalah tidak adanya polusi yang dihasilkan oleh bahan bakar, dan tidak mengeluarkan suara yang bising.
Mekanisme dalam pengajuan program ini, PLN menyarankan bisa melalui kelompok tani atau pribadi masing-masing.
“Caranya bisa langsung datang ke kantor PLN untuk mendaftar dan berkoordinasi, untuk menanyakan mekanismenya,” ucapnya.
Sementara, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan, Iman Firmansyah sangat mengapresiasi program ini, karena menurutnya ini merupakan inovasi pemerintah pusat yang luar biasa.
Sehingga sesuai perintah Bupati Majalengka dan sesuai dengan visi misi RAHARJA, Dinas harus keberpihakan kepada masyarakat kecil terutama para petani.
Karena walau bagaimanapun kemajuan dan ketahanan hidup dinegara tergantung kepada petani yaitu ketahanan pangan.
“Sehingga kami mempunyai kewajiban untuk inovasi ini ditindaklanjuti untuk di desa-desa yang lain dan di kecamatan yang lain. Agar pada posisi musim kemarau ada solusi untuk menyelamatkan budidaya tanaman para petani,” jelasnya.
Bahkan dirinya juga akan mencoba dengan para petugas, yang sebelumnya terjadi indek pertanaman (IP) 2. Dengan adanya pompanisasi menggunakan tenaga listrik, akan mencoba dilaksanakan IP3.
“Mungkin sebatas sampai 10 hektare sebagai contoh dan kami nanti IP3 juga ada dengan tanaman bawang. Nah bilamana nanti kita berhasil meningkatkan hasil tanam, kewajiban bagi pemerintah untuk komitmen dan betul-betul menggunakan pompanisasi menggunakan tenaga listrik,” jelasnya .
Selain itu menurut Kepala Dinas, pompanisasi ini mengurangi efisiensi penggunaan biaya atau anggaran.
Karena selama ini pemerintah membantu petani ini dengan alat pertanian, yaitu bentuk pompa air dengan adanya pompa air otomatis menggunakan solar dan terjadi subsidi dan subsidi solar tahun 2020 kurang lebih mencapai 1 miliar.
“Jadi dengan pola ini mengefisienkan anggaran dari pusat, kedua juga menghindari polusi,” ungkapnya.
Kepala Dinas juga menambahkan, kedepan Majalengka, khususnya yang kena dampak aero city, Dinas Pertanian akan mempersiapkan bagaimana menyelamatkan ketahanan pangan di Kabupaten Majalengka.
“Diantaranya dengan memperbaiki saluran air tersier kita akan menganggarkan dan pompanisasi ini akan kita coba untuk dianggarkan, agar semua air ini, bisa mengairi keseluruh sawah yang ada di Randegan yang mencapai sejumlah 120 hektare agar hasil akhirnya maksimal sesuai apa yang diperintah oleh visi misi RAHARJA kami akan terus mencoba mengangkat kesejahteraan,” ungkapnya.
Di tempat yang sama, Kepala Desa Randegan Wetan, Ahmad Umbara menambahkan, untuk menjalankan dua pompa air ini menggunakan daya 33000 kVh.
Dalam jangka watu setengah bulan dicoba pemerintah desa hanya membayar kurang lebih Rp1,5 juta, lebih ringan dibandingkan menggunakan solar yang sebelumnya dengan pemakaian dua pompa kurang lebih Rp7,5 juta.
“Resikonya juga harus beli solar kemana-mana, harus ganti oli, belum kerusakan mesinnya itu memang resiko. Dengan adanya inovasi baru ini memudahkan dalam rangka pompanisasi atau air ini adalah suatu anugrah bagi pemerintah Desa, mudah-mudahan ke depannya bisa meringankan beban para petani,” katanya. (Munadi)








Tinggalkan Balasan