Kunjungan Anak ke Puskesmas Melonjak, ISPA Mendominasi
KAB.CIREBON, (FC).- Kunjungan pasien anak ke sejumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten Cirebon menunjukkan tren peningkatan dalam tiga bulan terakhir.
Data pemantauan Dinas Kesehatan (Dinkes) bahkan mencatat rata-rata kunjungan anak di sejumlah puskesmas meningkat dari 35 anak per hari pada Juli menjadi 54 anak per hari pada September.
Artinya, terjadi kenaikan sekitar 54 persen dalam kurun dua bulan. Peningkatan tersebut terutama didominasi keluhan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Kepala Dinkes Kabupaten Cirebon, Hj. Eni Suhaeni, membenarkan adanya peningkatan kunjungan pasien anak tersebut. Berdasarkan pemantauan dan komunikasi dengan rumah sakit se-Kabupaten Cirebon, kenaikan terjadi pada pelayanan rawat jalan maupun rawat inap.
“Memang dalam beberapa pekan terakhir kami melihat adanya peningkatan kunjungan pasien anak dengan keluhan infeksi, terutama demam, batuk, pilek dan beberapa kasus lainnya,” ujar Eni, Kamis (17/9).
Data dari sejumlah puskesmas yang menjadi sampel Dinkes menunjukkan, rata-rata kunjungan pasien anak pada Juli berada di angka 35 anak per hari. Angka tersebut naik menjadi 37 anak per hari pada Agustus, kemudian melonjak menjadi 54 anak per hari pada September.
Dengan demikian, kenaikan tidak hanya terjadi pada Agustus, tetapi semakin terlihat pada September. Dari Juli ke Agustus bertambah dua kunjungan per hari, sedangkan dari Agustus ke September meningkat hingga 17 kunjungan per hari.
“Kasus paling banyak adalah ISPA,” jelas Eni.
Dinkes kini meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit infeksi pada anak. Kasus ditemukan pada beberapa kelompok usia, terutama anak-anak yang masih rentan terhadap infeksi.
Meski terjadi peningkatan kunjungan, sebagian besar kasus dengan kondisi ringan masih dapat ditangani secara rawat jalan. Sedangkan pasien dengan kondisi lebih berat, seperti sesak, dehidrasi, demam menetap atau membutuhkan pemantauan intensif, dapat menjalani rawat inap sesuai kondisi klinis.
Eni mengingatkan orang tua untuk tidak hanya memperhatikan suhu tubuh anak ketika demam, tetapi juga kondisi umum dan pola pernapasannya. Hal itu penting untuk mengantisipasi kemungkinan komplikasi, termasuk infeksi saluran pernapasan yang lebih berat.
Menurutnya, penyakit infeksi pada anak dapat lebih mudah menyebar ketika interaksi berlangsung tinggi, seperti di sekolah, tempat bermain dan lingkungan keluarga. Penularan juga dapat terjadi melalui droplet maupun kontak erat.
Karena itu, orang tua diminta memastikan imunisasi anak sesuai jadwal, membiasakan mencuci tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menjaga ventilasi rumah.
“Pesan kami kepada orang tua adalah tidak perlu panik, tetapi jangan lengah,” katanya.
Orang tua juga diminta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila demam disertai sesak atau kesulitan bernapas, anak sangat lemas, tidak mau minum maupun menunjukkan tanda-tanda dehidrasi.
Dinkes memastikan pemantauan terhadap perkembangan kasus terus dilakukan. Eni menegaskan, peningkatan kunjungan tersebut belum dapat disebut sebagai pola penularan tertentu sebelum dilakukan analisis epidemiologis lebih lanjut.
“Imunisasi, perilaku hidup bersih dan deteksi dini adalah tiga hal yang sangat penting untuk melindungi anak-anak kita,” pungkasnya. (Ghofar)








Tinggalkan Balasan