KOTA CIREBON, (FC).- Kata Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkien yang bermakna malam ke-15. Nah, karena itu momen Cap Go Meh selalu jatuh pada hari ke-15 setelah Hari Raya Imlek dan menjadi rangkaian penutup dari acara Tahun Baru Cina.

Jadi wajar, kalau acaranya pun diselenggarakan secara meriah. Bagi masyarakat Tionghoa sendiri, hal ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur agar segala urusan dan keinginan di masa mendatang dapat berjalan lancar.

Sejarah Cap Go Meh diketahui berawal dari sebuah ritual penghormatan kepada Dewa Thai Yi pada masa pemerintahan Dinasti Han pada abad ke-17.

Momen sakral perayaan Cap Go Meh kini dikenal masyarakat umum dan dirayakan secara lebih luas oleh berbagai kalangan. Tidak terkecuali di Kota Cirebon.

Minggu (5/2), di Vihara Welas Asih Kel/Kec Lemahwungkuk digelar perayaan Cap Go meh. Usai ritual peribadatan dilakukan, acara selanjutnya adalah Kirab Budaya  Joli-Joli yang membawa patung Dewi Kwan Im dan lainnya. Ada juga atraksi naga liong dan barongsai.

Tentunya hal ini sangat menarik bagi ribuan warga Cirebon dan sekitarnya. Mereka telah menunggu sejak Jam 12.00, memadati jalan di depan vihara sampai jalanan yang dilewati kirab budaya tersebut.

Hal ini bisa dimaklumi, pasalnya selama pandemi Covid-19 perayaan Cap Go Meh ini ditiadakan, dengan alasan dapat mengumpilkan massa dan terkendala aturan PPKM.

Wakil Walikota Cirebon Eti Herawati yang membuka sekaligus meelepas kirab budaya tersebut meyampaikan, Kirab Budaya Cap Go Meh tahun ini sangat luar biasa meriah, ribuan masyarakat sangat antusias menyebut di sepanjang jalan untuk menyaksikan kirab ini.

“Dua tahun memang tradisi ini sempat terhenti karena pandemi, dan tahun ini kita bangkitkan kembali tradisi yang ada di Kota Cirebon ini,” jelas Eti.

Eti didampingi Anggota DPR RI Dave Akbarshah Fikarno, Patih Keraton Kanoman Pangeran Patih PRM Qodiran dan Forkopimda lainnya ikut kirab sambil menggotong joli berisi patung dewa.

Sementara Dave Laksono menambahkan, Kirab Budaya Cap Go Meh ini merupakan perayaan kebersamaan dan persatuan Indonesia.

“Hari ini kita merayakan sebuah keindahan peninggalan leluhur Tiongkok, yang merupakan akhir dari perayaan Imlek yakni Cap Go Meh. Setelah beberapa tahun kita terhenti merayakan Kirab Budaya Cap Go Meh, Alhamdulillah tahun ini tradisi ini kembali dirayakan,” imbuhnya.

Jelang sore hari, hujan deras disertai angin kencang mewarnai perayaan Cap Go Meh. Namun menurut Budayawan Tionghoa Jeremy Huang, hal ini bukan pertanda buruk. Justru sebaliknya, hujan angin ini merupakan pertanda yang baik.

Dikatakannya, perayaan Imlek termasuk Cap Go Meh memang selalu dilaksanakan di musim penghujan. Turunnya hujan sebagai penanda turunnya berkah, maka hujan yang turun hari ini justru membuat para peserta kirab semakin bersemangat.

“Bisa diartikan, turunnya hujan adalah berkah yang turun dari langit untuk menyuburkan bibit benih yang ditanam petani. Biasanya hujan sesudah Toa Pe Kong (rupang dan joli) masuk kembali ke kelenteng usai dikirab,” tutup Jeremy. (Agus)