KAB. CIREBON, (FC).- Krisis air bersih mulai dirasakan sejumlah wilayah di Kabupaten Cirebon. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon telah menyalurkan 65.000 liter air bersih kepada 3.031 kepala keluarga (KK) atau 10.095 jiwa yang terdampak kekeringan.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon, Syamsul Huda, mengatakan bantuan tersebut disalurkan ke empat kecamatan yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

Kecamatan Klangenan menjadi wilayah dengan penerima bantuan terbesar. Sebanyak 37.000 liter air telah disalurkan untuk memenuhi kebutuhan 2.063 KK atau 7.104 jiwa.

Selanjutnya, Kecamatan Sedong mendapatkan 20.000 liter untuk 485 KK atau 1.610 jiwa. Sedangkan Kecamatan Talun menerima 4.000 liter untuk 365 KK atau 620 jiwa.

Adapun Kecamatan Gegesik mendapat pasokan 4.000 liter air bersih yang diperuntukkan bagi 118 KK atau 761 jiwa.

Syamsul mengatakan pendistribusian dilakukan secara terukur agar bantuan benar-benar diterima masyarakat yang membutuhkan.

Dalam pelaksanaannya, BPBD menerapkan lima tahapan pelayanan, mulai dari pendataan dan verifikasi lokasi, pengisian air ke armada tangki, pengiriman ke titik terdampak, distribusi kepada masyarakat hingga monitoring dan evaluasi.

“Pendataan dilakukan untuk memastikan lokasi, jumlah kepala keluarga dan kebutuhan air di lapangan sesuai dengan kondisi sebenarnya,” ujar Syamsul, Selasa (1/9).

Setelah data diverifikasi, BPBD menyiapkan pasokan air bersih ke armada tangki untuk kemudian dikirim sesuai jadwal dan kebutuhan masing-masing wilayah.

Distribusi dilakukan langsung kepada masyarakat terdampak. Setiap penyaluran juga dicatat dan dievaluasi sebagai bahan pemantauan sekaligus menentukan kebutuhan bantuan berikutnya.

Syamsul menegaskan, BPBD Kabupaten Cirebon akan terus memantau kondisi wilayah yang mengalami kekeringan. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi potensi meluasnya krisis air bersih.

“BPBD berkomitmen melayani masyarakat secara cepat, tanggap dan profesional, terutama dalam menghadapi kebutuhan air bersih di wilayah terdampak,” katanya.

Dengan pola pendataan dan distribusi yang terukur, bantuan air bersih diharapkan mampu meringankan beban masyarakat sekaligus memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama kondisi kekeringan berlangsung. (Ghofar)