KAB. CIREBON, (FC).- Pembangunan yang pesat di Desa Jatiseeng, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon dengan tanpa memperhatikan drainase lingkungan, kini Desa Jatiseeng menjadi wilayah langganan banjir manakala hujan turun, Kamis (16/12).

Aktivis lingkungan dari Petakala Grage, Deddy Madjmoe kepada FC mengungkapkan, kawasan strategis sentral perekonomian Kecamatan Ciledug tepatnya di Bunderan Desa Jatiseeng menjadi pemandangan banjir yang biasa tampak manakala hujan turun. Menurutnya memang sudah biasa banjir, akan tetapi banjir itu jangan dibiasakan, apalagi bunderan Jatiseeng merupakan zona transisi, karena terdapat jalan Kabupaten dan Jalan provinsi. Penyebab banjir, aku Deddy, karena curah hujan yang tinggi, tetapi saluran pembuangan yang berada di trotoar tidak pernah dikuras selama puluhan tahun, juga sampah yang tidak diangkat sehingga menyumbat aliran air.

“Kondisi ini memang sudah pernah saya sampaikan 10 tahun lalu, jika pesatnya pembangunan tanpa memperhatikan sistim drainase yang baik, maka akan menjadi kawasan langganan banjir, dan saat ini hal itu terjadi. Maka perlu ada penataan drainase yang baik serta membangun kesadaran masyarakat untuk membuat sumur resapan,”ungkapnya.

Ditambahkannya, persoalan lain muncul juga karena hampir semua pemukiman di wilayah Desa Jatiseeng, khususnya semua mengandalkan saluran pembuangan tertumpu pada saluran pembuangan yang ada, sehingga manakala air hujan turun di halaman rumah warga semua mengalir ke saluran irigasi yang sudah mengalami sedimentasi dan banyak titik mengalami kemacetan. Jadi, lanjut Deddy, permasalahan bukan hanya terjadi di Desa Jatiseeng saja, tetapi di Kecamatan Ciledug secara luas, karena saluran pembuangan tersebut berada di sisi jalan yang hampir melintasi beberapa desa di Kecamatan Ciledug pada umumnya.

“Memang lahan resapan air semakin hari semakin berkurang karena aktivitas pembangunan yang begitu pesat di Desa Jatiseeng, sehingga saluran pembuangan menjadi overload dan terjadi genangan air di mana-mana, bahkan sampai masuk rumah warga,”ungkap Deddy.

Lebih lanjut Deddy menjelaskan, untuk mengantisipasi kondisi tersebut yakni kondisi saluran pembuangan di sepanjang jalan Kabupaten dan saluran yang berada di trotoar jalan Provinsi segera dilakukan pengerukan atau normalisasi. Masih dikatakan Deddy, kalau untuk pemukiman, pihak Pemdes Jatiseeng telah mendapatkan bantuan program Kotaku yang telah membuat spal hampir di semua jalan dan gang lingkungan pemukiman warga.

Kemudian kedua adalah karena konsep masyarakat yang mengandalakan saluran umum untuk saluran pembuangan rumah tangga, maka dengan kondisi wilayah Jatiseeng yang kini padat gedung-gedung, maka diupayakan setiap rumah warga miliki sumur resapan atau biopori, agar ketika hujan, air bisa parkir bukan langsung terbuang ke saluran umum yang membuat overload dan akhirnya terjadi genangan di mana-mana. “Saya kira mulai saat ini warga harus dibangun kesadarannya untuk masing-masing rumah memiliki sumur resapan, sehingga air tidak overload di saluran pembuangan dan mengakibatkan banjir,” harapnya. (Nawawi)