KAB. CIREBON, (FC).- Kasus Leptospirosis di Kabupaten Cirebon terbilang langka dan jarang, namun setiap tahunnya ada saja kasus positif terinfeksi penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, dr Hj Neneng Hasanah mengatakan, setiap tahunnya (sejak tahun 2023) hanya 4 kasus positif terinfeksi penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira tersebut. Namun tahun ini hingga per tanggal 15 Juni sudah ada 4 kasus yang tersebar di empat kecamatan.

“Tahun 2025 ini ada empat kasus yang tersebar di empat kecamatan. Satu kasus di Kecamatan Ciledug, kemudian satu kasus di Kecamatan Suranenggala, satu kasus di Kecamatan Astanajapura dan satu kasus lagi di Kecamatan Gebang,” kata dr Hj Neneng Hasanah, Senin (16/6).

Belum lama ini, kata Neneng sapaan akrabnya, salah satu warga di Desa Melakasari, Kecamatan Gebang dinyatakan positif terinfeksi penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira.

Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon memberikan klarifikasi resmi terkait beredarnya informasi mengenai Kejadian Luar Biasa (KLB) Leptospirosis di Desa Melakasari, Kecamatan Gebang.

“Untuk menetapkan suatu wilayah sebagai KLB, diperlukan lebih dari sekadar satu kasus. Perlu diketahui penetapan KLB tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan satu parameter hasil laboratorium. Harus ada konfirmasi klinis dan hasil lab yang lengkap,” katanya.

Neneng menjelaskan bahwa kasus yang terjadi di Desa Melakasari baru terdeteksi melalui satu parameter, yakni metode General Growth Model (GGM). Dari empat warga yang diperiksa, hanya satu orang yang menunjukkan hasil positif, sedangkan tiga lainnya dinyatakan negatif.

Selain memeriksa manusia, menurut Neneng, keberadaan vektor penular seperti tikus juga perlu diperhatikan. “Sumber penular seperti tikus seharusnya ikut diperiksa. Bisa saja tikus membawa bakteri penyebab Leptospirosis, terutama di wilayah-wilayah yang terdampak banjir,” jelasnya.

Ia menambahkan, wilayah Kabupaten Cirebon secara keseluruhan berpotensi mengalami penyebaran Leptospirosis, khususnya di daerah yang pernah terdampak banjir.

Bahkan rumah-rumah yang tampak bersih sekalipun tidak sepenuhnya aman dari risiko jika masih terdapat tikus di dalamnya.

“Kita imbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan. Kalau ada tikus, harus segera dibasmi. Perhatikan tempat makan dan minum, karena bisa saja tikus buang air di situ tanpa disadari,” tambahnya.

Sebagai langkah pencegahan, Dinas Kesehatan terus menggencarkan edukasi tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada masyarakat. (Ghofar)