KUNINGAN, (FC).- Kepulan asap tebal kembali menyelimuti kawasan Gunung Ciremai. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, hingga Selasa (8/9) masih belum berhasil dipadamkan sepenuhnya.

Petugas gabungan terus berjibaku mengendalikan kobaran api di tengah kondisi medan yang sulit dijangkau. Upaya pemadaman dilakukan agar api tidak meluas dan menyeberangi jalur jalan di sekitar kawasan hutan.

Koordinator Urusan Data, Evaluasi, Pelaporan dan Kehumasan TNGC, Eska Nata Suryana, mengatakan kebakaran terdeteksi melalui pemantauan udara menggunakan drone. Titik asap pertama terlihat di dua lokasi, yakni Grid 19 M Blok Cileutik dan Simaung SPTN Wilayah I Kuningan, Resor Kecamatan Pasawahan.

“Saat ini masih dalam penanganan petugas TNGC bersama mitra terkait. Api belum sepenuhnya padam dan fokus utama kami adalah melakukan pemadaman agar tidak menyebar melewati jalan,” ujar Eska, Selasa (8/9).

Penanganan karhutla melibatkan berbagai unsur, mulai dari petugas TNGC, Manggala Agni TNGC, TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA), hingga sejumlah mitra TNGC.

Berdasarkan pemantauan dari udara, api terlihat membakar area yang dipenuhi ranting kering dan pepohonan. Asap kemudian membumbung tinggi hingga menutupi sebagian kawasan hutan di sekitar titik kebakaran.

Humas MPA Silihwangi Majakuning, Asep, mengatakan kebakaran pertama kali diketahui warga pada Senin (7/9) sekitar pukul 12.00 WIB. Saat itu, warga yang sedang beraktivitas di sekitar kawasan hutan melihat kepulan asap dan kobaran api.

Informasi tersebut langsung diteruskan kepada relawan MPA. Sejumlah kelompok kemudian bergerak menuju lokasi untuk membantu memutus jalur penyebaran api.

“Begitu mendapat informasi, setelah apel siaga sekitar pukul 12.30 WIB kami langsung bergerak. Ada tiga MPA dari Seda, Bidang Kencono, Pasawahan, serta Mandirancan. Total sekitar 20 orang,” kata Asep.

Menurutnya, proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala, terutama kondisi medan yang berada di kawasan perbukitan dengan akses yang cukup jauh dan berbatu.

Selain medan, faktor angin kencang juga membuat api cepat merambat. Keterbatasan sumber air di lokasi menyebabkan petugas harus menggunakan metode manual untuk mengendalikan kobaran api.

“Peralatan sebenarnya lengkap, tetapi jarak menuju titik api cukup jauh. Akhirnya banyak dilakukan secara manual dengan cara dipukul-pukul agar api bisa dikendalikan,” ungkapnya.

Asep menjelaskan, alat pemadam seperti jet shooter memiliki keterbatasan kapasitas air sehingga tidak selalu efektif digunakan di medan terbuka yang sulit dijangkau.

Hingga Selasa, petugas gabungan masih bertahan di lokasi untuk melakukan pemadaman sekaligus memantau titik-titik api agar tidak kembali meluas.

Sementara itu, luas area yang terbakar dan penyebab kebakaran masih dalam proses pendataan. Petugas belum dapat memastikan apakah karhutla terjadi akibat faktor alam maupun aktivitas manusia.

“Kami belum bisa memastikan penyebabnya. Bisa saja faktor alam atau ada aktivitas manusia seperti puntung rokok. Di wilayah utara memang rawan karena kondisi kering, banyak ranting, dan angin cukup besar,” pungkas Asep. (Angga)