Kafilah Kabupaten Cirebon Protes Hasil Pentas PAI Jabar, Soroti Dugaan Kejanggalan Administrasi
KAB.CIREBON, (FC).- Kafilah Kabupaten Cirebon dalam ajang Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (Pentas PAI) SD Tingkat Provinsi Jawa Barat 2026 mempertanyakan sejumlah kejanggalan yang terjadi selama pelaksanaan lomba di Kota Bekasi.
Keberatan tersebut muncul setelah kafilah Kabupaten Cirebon yang sebelumnya berhasil meraih predikat juara umum pada tahun lalu, kali ini tidak memperoleh satu pun gelar juara, termasuk kategori juara harapan.
Ketua Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKG PAI) Kabupaten Cirebon, Ahmad Junaedi, mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai persiapan maksimal untuk mempertahankan prestasi tersebut.
Bahkan, pembinaan peserta dilakukan dengan melibatkan tenaga profesional di masing-masing bidang lomba.
“Karena tahun kemarin Kabupaten Cirebon juara umum, kami berusaha mempertahankan semaksimal mungkin. Pembinaan dilakukan secara serius dengan menghadirkan pembina yang kompeten, mulai dari bidang MTQ, kaligrafi, hingga cabang lainnya,” ujar Ahmad, Kamis (23/7).
Namun, hasil yang diperoleh di tingkat provinsi justru berbanding terbalik dengan persiapan yang dilakukan. Ahmad mengaku pihaknya menemukan sejumlah hal yang dinilai janggal sejak awal pelaksanaan kegiatan.
Salah satu persoalan yang disoroti adalah kesalahan dalam sistem pendataan peserta. Saat proses penginputan data, nama Kabupaten Cirebon disebut justru muncul sebagai Kota Cirebon.
“Sejak awal penginputan data sudah ada persoalan. Saat pendataan, yang muncul bukan Kabupaten Cirebon, tetapi Kota Cirebon,” ungkapnya.
Menurut Ahmad, kesalahan tersebut masih terjadi hingga hari pelaksanaan lomba. Bahkan, dalam daftar absensi yang dicetak panitia, nama Kabupaten Cirebon belum tercantum sebagaimana mestinya.
Ia menyebut, setelah adanya keberatan dari pihak kafilah, data tersebut baru diperbaiki melalui sistem. Namun, kondisi itu dinilai menimbulkan tanda tanya karena perbaikan dilakukan menjelang pelaksanaan lomba.
“Kami mempertanyakan kenapa perbaikan baru dilakukan saat lomba akan dimulai. Padahal sebelumnya sudah ada technical meeting dan persoalan tersebut sudah disampaikan,” katanya.
Selain masalah administrasi, Ahmad juga menyoroti persoalan teknis lain, salah satunya jarak pelaksanaan defile yang dinilai terlalu jauh hingga menyebabkan sejumlah peserta mengalami kelelahan dan ada yang harus mendapatkan perawatan medis.
Atas berbagai kejadian tersebut, KKG PAI Kabupaten Cirebon telah menyampaikan nota protes kepada panitia penyelenggara tingkat Provinsi Jawa Barat. Mereka meminta adanya keterbukaan terkait hasil penilaian seluruh cabang lomba.
“Kami ingin mengetahui secara jelas perolehan nilai Kabupaten Cirebon. Bukan semata-mata karena tidak juara, tetapi sebagai bahan evaluasi dan memastikan proses berjalan transparan,” tegasnya.
Ahmad mencontohkan, pada cabang Musabaqah Hifzhil Quran (MHQ), peserta Kabupaten Cirebon dinilai tampil maksimal dan mampu menjawab seluruh soal yang diberikan.
“Kalau melihat penampilan, minimal ada yang masuk juara atau juara harapan. Tapi hasilnya tidak ada sama sekali. Itu yang membuat kami mempertanyakan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Kabupaten Cirebon, H Mushofa, mengatakan pihaknya menyerahkan sepenuhnya langkah keberatan tersebut kepada KKG PAI Kabupaten Cirebon sebagai pihak yang mengikuti dan memahami teknis perlombaan.
Menurutnya, pemerintah daerah hanya memberikan dukungan terhadap kafilah yang bertanding. Jika KKG PAI merasa ada hal yang perlu diklarifikasi, maka penyampaian protes kepada panitia provinsi merupakan hak mereka.
“Kami mendukung langkah KKG PAI. Kalau mereka merasa keberatan, silakan menyampaikan protes karena itu menjadi hak mereka,” kata Mushofa.
Ia mengakui, persoalan utama yang menjadi sorotan adalah tidak tercantumnya nama Kabupaten Cirebon dalam daftar awal, melainkan munculnya nama Kota Cirebon.
“Yang membuat mereka ragu adalah proses dari awal. Dalam absensi dan penyebutan awal, Kabupaten Cirebon tidak terlihat, yang muncul justru Kota Cirebon,” jelasnya.
Mushofa menilai, kafilah Kabupaten Cirebon memiliki potensi besar untuk meraih prestasi karena telah melalui proses pembinaan yang cukup panjang. Terlebih, pada tahun sebelumnya Kabupaten Cirebon berhasil menjadi juara umum.
“Potensi anak-anak kita sebenarnya sangat baik. Mereka sudah dipersiapkan dengan maksimal. Ketika hasilnya tidak mendapatkan satu pun penghargaan, tentu muncul pertanyaan dan perlu ditelusuri,” ungkapnya.
Terkait dugaan adanya sabotase, Mushofa menyebut pihaknya belum dapat memastikan. Namun, ia memahami kekhawatiran yang disampaikan KKG PAI dan berharap klarifikasi dari pihak provinsi dapat memberikan penjelasan.
“Apakah ada kaitannya atau tidak, tentu perlu penelusuran lebih lanjut. Yang jelas mereka ingin mengetahui secara rinci proses dan hasil penilaiannya,” pungkasnya. (Ghofar)








Tinggalkan Balasan