Kabupaten Cirebon Pernah Menjadi Sentra Kedelai
Warning: Attempt to read property "post_excerpt" on null in /home/slawipos/tintabiru.com/wp-content/themes/liputanwp/template-parts/single/single-desktop.php on line 79
KAB. CIREBON, (FC).- Di tengah ramainya lonjakan harga kedelai sekarang, ternyata Kabupaten Cirebon pernah menjadi sentra kedelai di tahun 1984 silam.
Sentra lahan pertanian kacang kedelai di Kabupaten Cirebon yang terluas berada di desa Ciwaringin mencapai 2.000 hektar.
Akan tetapi, karena dianggap kurang bersaing, petani memilih untuk menanam padi ataupun tanaman palawija lain yang lebih bersaing dan menguntungkan.
Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Dinas Pertanian dan peternakan Kabupaten Cirebon, Wasman.
“Karena dianggap kurang bersaing di banding komoditi lain, dan harganya pun tak menentu masyarakat beralih untuk menanam benih lainnya seperti kacang hijau,” ujar Wasman kepada FC, Senin (11/1)
Selain dianggap kurang bersaing, kedelai lokal pun kurang dilirik oleh pelaku industri tahu dan tempe. Karena, dianggap sulit untuk mengembang atau lebih sedikit pati apabila untuk tahu.
Intinya, kualitas lokal saat itu hingga sekarang masihlah dibawah kedelai impor. Sehingga, masyarakat lebih memilih kedelai impor dengan kualitas baik dan harga yang lebih murah.
“Kualitas kedelai lokal itu tidak sebaik impor dikarenakan, cuaca dan iklim yang terlalu panas. Yang seharusnya, panen 9 bulan di sini jadi 4 bulan jadi cepat tua dan sari patinya jadi lebih sedikit,” beber Wasman, Senin (11/1)
Maka dari itu, hal ini mempengaruhi betul industri kedelai baik tahu, tempe, maupun petani kedelai itu sendiri. Terlebih pada saat itu belum ada Harga Pokok Penjualan (HPP) kedelai.
Menurut Wasman, tahun 1984 merupakan masa puncaknya produksi kedelai di Kabupaten Cirebon. Setelah itu, jumlah lahan kedelai lokal ini terus menyusut hanya tersisa ratusan hektar saja.
“Meski, memang sudah ada 400 hektare di Waled dan Pasaleman tapi, kalau cuaca bagus itu sebagian digunakan untuk yang lain,” ujarnya.
Kalau, sambungnya, bukan bawang biasanya, jagung manis, atau tanaman lainnya yang ditanam di atas lahan seluas 200 hektare kacang kedelai.
“Baru, nantinya sebagian lagi untuk menanam kacang kedelai,” tegasnya.
Wasman menambahkan, meski telah ditentukan HPP oleh pemerintah, tetap kualitas kedelai lokal masih berada dibawah impor. Sehingga, sulit untuk melakukan penanaman kedelai di lahan pertanian wilayah Cirebon. (Sarrah/Job/FC)








Tinggalkan Balasan