KAB. CIREBON, (FC).- Santri dituntut tidak hanya menjadi penjaga nilai-nilai keagamaan, tetapi juga tampil sebagai penggerak perubahan sosial di tengah masyarakat.

Mulai dari membantu penanggulangan kemiskinan, menjaga kelestarian lingkungan, hingga memerangi narkoba, pinjaman online (pinjol) ilegal, dan judi online.

Pesan tersebut disampaikan Camat Talun, Agustino Alamsyah, saat peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 tingkat Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, Kamis (22/10).

Menurut Agustino, tantangan yang dihadapi santri saat ini telah berkembang seiring perubahan zaman. Jika pada masa perjuangan kemerdekaan santri turut mengangkat senjata melawan penjajah, kini perjuangan diwujudkan melalui keterlibatan aktif dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial.

“Jika dulu santri berjuang mengangkat senjata melawan penjajah, maka hari ini santri di Kecamatan Talun harus berdiri di garda terdepan untuk melawan kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan penyakit sosial digital yang merusak moral bangsa,” ujar pria yang akrab disapa Guslam tersebut.

Ia menekankan tiga peran strategis yang perlu diperkuat kalangan santri. Pertama, menjadi penggerak kepedulian sosial dengan membantu mengidentifikasi warga yang membutuhkan perhatian pemerintah.

Santri diharapkan peka terhadap kondisi masyarakat, terutama keluarga kurang mampu, anak putus sekolah, dan lanjut usia yang terlantar.

Mereka juga dapat menjadi penghubung antara warga dengan pemerintah desa maupun kecamatan agar masyarakat yang memenuhi persyaratan dapat mengakses program bantuan sosial.

“Melalui kepedulian santri, jaring pengaman sosial di Kecamatan Talun akan semakin kokoh,” katanya.

Peran kedua adalah menjadi pelopor kebersihan dan pelestarian lingkungan. Guslam mendorong pondok pesantren di Kecamatan Talun menerapkan pengelolaan sampah secara bertanggung jawab, mulai dari pemilahan sampah sejak sumbernya hingga pengembangan pengelolaan sampah secara mandiri.

Menurut dia, nilai kebersihan yang diajarkan dalam Islam perlu diwujudkan melalui tindakan nyata. Pesantren diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat dalam mengurangi timbulan sampah dan menerapkan konsep zero waste atau meminimalkan sampah.

Upaya tersebut juga perlu disertai edukasi kepada masyarakat agar kesadaran menjaga lingkungan tumbuh menjadi kebiasaan bersama.

Ketiga, santri didorong mengambil bagian dalam mencegah penyalahgunaan narkoba, pinjol ilegal, dan judi online. Berbagai persoalan tersebut dinilai dapat mengancam masa depan generasi muda serta mengganggu ketahanan ekonomi keluarga.

Guslam mengajak santri memperkuat pemahaman keagamaan sekaligus meningkatkan literasi masyarakat mengenai bahaya narkoba, jeratan pinjaman ilegal, dan perjudian daring.

Santri juga diharapkan mampu menjadi teladan dalam memanfaatkan teknologi secara bijak serta membantu membangun lingkungan yang lebih waspada terhadap berbagai ancaman sosial di era digital.

“Pemerintah Kecamatan Talun tidak bisa berjalan sendiri. Kami butuh sinergi dari para ulama dan energi luar biasa dari para santri,” tegasnya.

Ia menilai, kolaborasi antara pemerintah, ulama, pengasuh pesantren, dan kalangan santri menjadi modal penting untuk mendorong kemajuan daerah. Keterlibatan berbagai elemen tersebut diharapkan mampu memperkuat penyelesaian persoalan sosial secara berkelanjutan.

Guslam menambahkan, peringatan Hari Santri Nasional tidak semestinya berhenti pada kegiatan seremonial untuk mengenang Resolusi Jihad 22 Oktober 1945.

Momentum tersebut perlu menjadi pengingat bahwa santri memiliki tanggung jawab untuk terus berkontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Melalui penguatan kepedulian sosial, pelestarian lingkungan, serta pencegahan narkoba dan kejahatan digital, santri diharapkan mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Santri berdaya, Talun jaya, Indonesia sejahtera,” pungkasnya. (Johan)