KAB.CIREBON, (FC).- Pameran Keris Nasional bertajuk Gugah Gaman Cirebon kembali digelar pada 30 Oktober hingga 1 November 2026 di Pendopo Bupati Cirebon.

Pameran ini akan menghadirkan ratusan keris pusaka sebagai upaya melestarikan warisan budaya sekaligus memperkenalkan seni, sejarah, dan filosofi keris kepada generasi muda.

Ketua Paguyuban Seni Kreatif dan Tosan Aji (SAKETI), Gunawan Wibiksana, mengatakan, pameran tersebut bukan sekadar ajang memamerkan benda pusaka, melainkan momentum kebangkitan budaya perkerisan di Cirebon.

Menurutnya, Gugah Gaman Cirebon menjadi deklarasi budaya untuk membangkitkan kembali eksistensi keris Cirebon agar lebih dikenal, berkembang, dan memiliki keberlanjutan di tengah masyarakat.

“Pameran ini tidak sekadar memajang karya, melainkan sebuah maklumat budaya bahwa gaman Cirebon telah bangkit dari tidur panjangnya. Ini menandai era baru perkerisan yang mandiri, berdaya, dan berkelanjutan,” ujar Gunawan, Minggu (18/10).

Ia menjelaskan, salah satu tujuan utama kegiatan tersebut adalah mengubah pandangan masyarakat terhadap keris yang selama ini kerap dikaitkan dengan mistisisme atau sekadar benda peninggalan masa lalu.

Padahal, keris juga merupakan karya seni kriya yang memiliki nilai sejarah, filosofi, keterampilan, serta potensi ekonomi kreatif untuk dikembangkan.

Melalui pameran ini, SAKETI ingin memperkenalkan keris sebagai warisan budaya yang tetap hidup dan relevan dengan perkembangan zaman.

Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan membuka ruang apresiasi, diplomasi budaya, serta memperkuat ekosistem ekonomi kreatif berbasis warisan budaya takbenda.

Sementara itu, Sekretaris SAKETI yang juga pemerhati kebijakan publik, Angga Maradeka, menilai dukungan pemerintah daerah dan kolaborasi berbagai pihak menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan kegiatan kebudayaan.

Menurutnya, pameran keris tidak hanya berfungsi sebagai sarana pelestarian budaya, tetapi juga berpotensi memperkuat identitas daerah, meningkatkan edukasi sejarah, dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Angga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Cirebon melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) yang dipimpin Fajar Sutrisno, dalam memfasilitasi penyelenggaraan kegiatan tersebut.

“Kami sangat mengapresiasi hadirnya pemerintah daerah dalam upaya pelestarian seni dan budaya Cirebon. Kolaborasi seperti ini penting agar warisan budaya tetap terjaga sekaligus bisa dikembangkan menjadi potensi ekonomi kreatif dan pariwisata,” ungkapnya.

Selain pameran keris pusaka, panitia juga menyiapkan demonstrasi penempaan keris oleh Empu Lingga Nugraha, putra daerah Kabupaten Cirebon.

Kegiatan ini diharapkan memberikan gambaran langsung kepada pengunjung mengenai proses pembuatan keris, mulai dari keterampilan menempa hingga nilai seni yang terkandung di dalamnya.

Panitia juga membuka ruang edukasi bagi pelajar di Kabupaten Cirebon yang ingin mengenal lebih jauh sejarah, filosofi, dan proses pembuatan keris.

Kalangan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Cirebon turut diundang untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Pameran ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Dengan demikian, masyarakat dari berbagai kalangan memiliki kesempatan untuk mengenal lebih dekat warisan budaya perkerisan Cirebon.

Melalui Gugah Gaman Cirebon, penyelenggara berharap tradisi perkerisan kembali mendapat perhatian luas, termasuk mendorong munculnya generasi empu baru yang mampu melanjutkan keterampilan dan pengetahuan para pendahulu.

Selain memperkuat identitas budaya daerah, kegiatan ini diharapkan menjadi daya tarik wisata budaya yang memperkaya pilihan destinasi di Kabupaten Cirebon.

Pameran tersebut sekaligus menjadi momentum untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa pelestarian keris bukan hanya menjaga benda pusaka, tetapi juga merawat sejarah, seni, pengetahuan tradisional, dan jati diri bangsa. (Ghofar)