Empat Pilar Tak Boleh Jadi Hafalan, Rokhmin Dahuri Tantang Pemuda Bangkit dan Mandiri
KAB.CIREBON, (FC).- Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan dari Dapil 8 Jawa Barat, Prof Rokhmin Dahuri, menegaskan bahwa nilai-nilai dasar negara tidak boleh berhenti sebagai teori atau sekadar hafalan.
Hal tersebut disampaikannya saat Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama Karang Taruna se-Kecamatan Gebang, di Kantor Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, Kamis (5/2) sore.
Kegiatan kolaboratif tersebut bertujuan memperkuat pemahaman masyarakat khususnya kalangan pemuda tentang peran strategis Empat Pilar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sekaligus mendorong pembangunan yang berpijak pada nilai Pancasila dan UUD 1945.
Sebagai anggota DPR RI periode 2024–2029 sekaligus Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kelautan dan Perikanan, Rokhmin menekankan bahwa Empat Pilar MPR RI harus menjadi pedoman nyata dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar konsep normatif di ruang kelas.
“Empat Pilar ini bukan teori kosong. Ini adalah fondasi konkret yang harus hidup dalam sikap, perilaku, dan cara kita membangun bangsa,” tegas Rokhmin.
Ia menjelaskan, Empat Pilar yang disosialisasikan mencakup Pancasila sebagai dasar negara, UUD 1945 sebagai konstitusi, NKRI sebagai bentuk negara, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai perekat persatuan.
Berbeda dari pendekatan formal yang kerap terasa kaku, Rokhmin memilih menyampaikan materi dengan bahasa yang dekat dengan realitas masyarakat.
“Saya tidak terpaku pada buku setebal 208 halaman. Yang penting adalah inti nilai dan bagaimana itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, supaya mudah dipahami dan dijalankan,” ujarnya.
Pemilihan Karang Taruna sebagai mitra sosialisasi bukan tanpa alasan. Rokhmin mengaku memiliki ikatan emosional dengan organisasi kepemudaan tersebut, mengingat dirinya pernah menjabat sebagai Ketua Karang Taruna Gebang Ilir.
Pengalaman itu, kata dia, mengajarkannya arti kerja kolektif dan keberpihakan pada pemberdayaan masyarakat.
“Saat itu kami bekerja sama dengan Dinas Sosial untuk menertibkan lokasi-lokasi tidak layak dan memberikan pelatihan. Dari 25 orang yang dilatih, dua berhasil keluar dari kehidupan yang sulit. Itu bukti bahwa kerja serius bisa mengubah nasib,” ungkapnya.
Dalam forum tersebut, Rokhmin juga menyoroti pola pembangunan yang terlalu bertumpu pada bantuan materi. Menurutnya, pendekatan semacam itu berpotensi melemahkan mental kemandirian masyarakat.
“Kalau terus diberi ikan, masyarakat tidak akan pernah belajar memancing. Sepuluh tahun terakhir, terlalu banyak pejabat fokus bagi-bagi bantuan, padahal itu bisa menciptakan ketergantungan,” tandasnya.
Untuk itu, ia berkomitmen mendorong anggota Karang Taruna usia produktif agar mendapatkan akses pelatihan, keterampilan, dan peluang kerja yang layak sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia.
“Setiap orang berhak berdiri di atas kakinya sendiri. Mari kita bangun masa depan dengan gotong royong dan kemandirian,” pungkas Rokhmin.
Sosialisasi ini diharapkan menjadi pemantik gerakan yang lebih luas dalam menghidupkan nilai-nilai dasar negara, terutama di kalangan pemuda sebagai agen perubahan dan penerus bangsa. (Nawawi)








Tinggalkan Balasan