Dugaan Markup Proyek Kuningan Caang, Harga Material PJU Disorot Tak Masuk Akal
KUNINGAN, (FC).- Program Kuningan Caang yang digadang-gadang sebagai simbol penerangan dan kemajuan daerah kini menuai sorotan. Dugaan markup anggaran dalam proyek Penerangan Jalan Umum (PJU) kini mencuat ke publik, menyusul adanya perbandingan harga material yang dinilai tidak masuk akal.
Sorotan tersebut disampaikan Fajar Sidik Ramadi, pelaku usaha di bidang lampu penerangan jalan dan perlengkapan infrastruktur. Ia menilai, indikasi kejanggalan dapat ditelusuri dengan mencocokkan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dengan harga pasar.
“Sebetulnya ini mudah ditelusuri. Tinggal buka RAB, lalu cocokan dengan harga pasar. Kalau ada selisih wajar itu biasa, tapi kalau terlalu besar, ini yang jadi masalah,” ujarnya, Selasa (31/3).
Fajar membeberkan sejumlah komponen material yang mengalami lonjakan harga signifikan. Di antaranya, link buckle yang di pasaran berkisar Rp800 hingga Rp1.000, namun dalam RAB tercantum Rp21.197.
Stoping buckle dari sekitar Rp500 menjadi Rp13.484, serta wedge clamp dari Rp5.000 melonjak menjadi Rp52.806.
Bahkan, plat stainless yang umumnya sekitar Rp3.000 per meter tercatat Rp24.664.
Menurutnya, kenaikan harga hingga puluhan kali lipat tersebut tidak dapat dianggap sebagai margin keuntungan yang wajar.
“Kalau naik dua kali lipat mungkin masih bisa dimaklumi, tapi ini sampai puluhan kali lipat. Itu sudah di luar kewajaran,” tegasnya.
Selain harga, ia juga menyoroti volume kebutuhan material yang dinilai tidak logis. Dengan jumlah tiang PJU sekitar 1.900 unit, kebutuhan aksesoris seperti stoping buckle seharusnya sekitar 3.800 unit. Namun jika jumlahnya mencapai 7.000 unit, hal tersebut dinilai janggal.
Tak hanya itu, biaya pemasangan juga menjadi perhatian. Fajar menilai biaya pemasangan kabel sebesar Rp144.925 per meter tidak sebanding dengan harga material kabel NYM yang hanya berkisar Rp8.500 hingga Rp13.875 per meter.
“Aneh kalau kabel udara dihitung seperti pekerjaan berat. Ini bukan galian,” katanya.
Ia juga menyoroti biaya lain seperti pergelaran kabel yang mencapai Rp45.890 per meter, hingga bekisting pondasi sebesar Rp300.000 per meter persegi.
Selain itu, munculnya biaya tambahan untuk angkur turut dipertanyakan, mengingat komponen tersebut umumnya sudah termasuk dalam pembelian tiang PJU oktagonal.
“Publik juga tahu, kalau beli tiang biasanya sudah termasuk angkur. Jadi kenapa ada biaya lagi?” ujarnya.
Atas temuan tersebut, Fajar mendesak pihak terkait, khususnya inspektorat, untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap proyek “Kuningan Caang”.
“Kalau memang tidak ada masalah, silakan dibuka saja ke publik. Tapi kalau ada, harus dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai dugaan tersebut.
Sementara itu, publik menanti langkah tegas aparat pengawasan untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran dalam proyek tersebut. (Angga)








Tinggalkan Balasan